Wednesday, November 14, 2007

Dirjen Teliti Sistim Pertanian Organik

TAKENGON-Direktorat Jendral Mutu dan Standarisasi Pengolahan dan Pemasaran Departemen Pertanian Republik Indonesia, akan melakukan penelitian sistim pertanian organic di Aceh Tengah.

DR L I Nyoman Oka Trijaya, MA PPL SC, Dirjen Mutu dan Standarisasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian menyatakan, "hasil penelitian ini nantinya akan menjadi acuan standar mutu Indonesia (SNI)," sebut Dirjen saat bertemu Bupati Aceh Tengah, Ir Nasaruddin MM, Kamis (2/8).

Dalam penelitian untuk kopi organik, Dirjen akan bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan kopi di Jember. “Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk meningkatkan produksi kopi Aceh Tengah dengan system organik."

Selain merlakukan penelitian, tim Dirjen ini akan melakukan peninjauan langsung ke perkebunan kopi milik daerah di Burni Bius dan prosesing kopi di Kampung Weh Nareh Kecamatan Pegasing.

I Nyoman berharap agar Aceh Tengah yang mayoritas penduduknya menggantungkan perekonomian mereka dengan berkebun kopi, perlu melihat Pulper (sistim Penggilingan Kopi) yang dibutuhkan oleh petani setempat).

Selain meneliti sistim perkebunan kopi secara organic, tim ini juga berjanji memberikan bantuan 10 unit mesin pengolahan tebu yang akan dijadikan gula merah pada kelompok tani di Kecamatan Ketol.
“Dalam penelitian ini, kita akan bekerjasama dengan Dinas Perkebunan Aceh Tengah,” ujar I Nyoman Oka Trijaya.

Lebih lanjut dijelaskan Dirjen, khusus untuk sertifikasi lahan-lahan perkebunan , selama ini di Indonesia, untuk berbagai jenis komoditi perkebunan, seperti, Sawit, kopi, kakao, dilakukan oleh pihak luar negeri, yaitu dari SKAL, NASA, JAS ddan Fair Trade.

Sementara itu, ujar I Nyoman Oka, di Indonesia sendiri telah ada Lembaga Standar Mutu Indonesia (SNI). “Untuk itu SNI akan memverifikasi lembaga asing tersebut untuk bekerjasama dengan SNI," ujar I Nyoman Oka.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin didampingi Kabag Humas, Drs Windi Darsa, kepada wartawan menyatakan, sangat mendukung rencana penelitian oleh Dirjen dari Deptan RI tersebut.
Dikatakan Nas, sebutan bupati, selama ini di Takengon sudah ada perusahaan asing yang menjalankan sistim pertanian kopi secara organic yang bekerjasam dengan koperasi Baitul Qirad Baburrayan.

Dengan sistim organic ini, kata bupati, mutu kopi asal Gayo tersebut tetap diminati oleh Negara-negara konsumen kopi di Ameriak, Erofa dan Jepang, yang sangat menyukai kopi organic Aceh Tengah.

Kepada tim yang dating ke dataran tinggi gayo, bupati menjelaskan, Aceh Tengah telah memiliki home industri yang mengolah kopi menjadi bubuk kopi. Namun home industri ini masih berskala kecil.

Sementara perusahaan yang ada baru mengeksport kopi kering ke luar negeri. Bukan kopi bubuk dalam kemasan. Menjawab tim pemasaran gula produksi petani tebu di Takengon, menurut bupati masih dipasarkan secara lokal pada pedagang luar daerah.(win)

Diserang Jamur Akar dan Penggerek Buah Kopi Gayo Kritis

REDELONG - Jamur akar dan hama penggerek buah menyerang tanaman kopi rakyat di Kabupaten Bener Meriah. Menurut data terkini, lebih 23 juta batang kopi dengan total luas 19.927 hektar diserang kedua jenis penyakit mematikan tersebut. Jika tak segera diantisipasi, kopi Gayo benar-benar kritis dan 90 persen masyarakatnya terancam hilang sumber pendapatan.

Berdasarkan data yang dihimpun Serambi, luas areal kebun kopi di Kabupaten Bener Meriah saat ini mencapai 37.816 hektar. Dari jumlah itu, serangan jamur akar terberat mencapai 861 hektare (1.033.464 batang), serangan sedang 3.481 hektare (4.177.260 batang), dan serangan ringan 8.856 hektare (10.627.236 batang). Menurut berbagai referensi, jamur akar yang dapat menyerang tanaman kopi adalah jamur berwarna putih, cokelat, hitam, dan merah. Akan tetapi jamur akar yang menyerang kopi di Bener Meriah umumnya warna putih.

Sedangkan hama penggerek buah, dihitung dari luas areal tanaman, juga terdiri dari bebarapa tingkatan. Serangan tergolong berat mencapai 4.957 hektare (5.948.508 batang), serangan sedang 1.340 hektare (1.608.468 batang), dan serangan ringan 432 hektare atau 5.192 batang.

Tingkat kerugian petani kopi Bener Meriah akibat serangan hama dalam dua tahun terakhir mencapai Rp 10 miliar dengan perkiraan setiap tahunnya menghasilkan biji kopi hijau (green coffee) sekitar 400 kilogram/hektare dikali harga jual terendah Rp 15.000/kilogram, sementara serangan hama jamur akar terberat mencapai 861,22 hektare. Kerugian itu akan semakin besar jika dihitung pada serangan sedang dan ringan.

Bupati Bener Meriah, Ir Tagore Abubakar, Jumat (3/8) kepada Serambi mengatakan, Pemkab Bener Meriah telah berupaya menanggulangi hal tersebut dengan menganjurkan petani untuk mengantisipasi jamur akar dengan menggunakan biofungisida (Trichoderma SP). Pemberian fungisida ini bertujuan untuk mencegah penularan jamur yang berlangsung cepat, dengan radius mencapai 20 meter.

Tagore yang ahli pertanian itu mengatakan, pengadaan Trichoderma SP saat ini sangat terbatas, mengingat luas lahan kopi di Kabupaten Bener Meriah sangat luas. Untuk itu, kata Tagore, pemkab berusaha mendapatkan bantuan dari Pusat melalui Dirjenbun untuk membuat laboratorium yang dapat memproduksi Tricohderma SP dengan jumlah banyak di Bener Meriah.

Solusi lainnya, lanjut Tagore, Pemkab Bener Meriah juga akan berupaya untuk mengadopsi sistem Proyek Rehabilitasi Perkebunan Tanaman Ekspor (PRPTE), sehingga kemungkinan besar, ribuan hektar kopi di Bener Meriah akan direhabilitasi dengan pola tanam ulang, setelah semua lahan dipastikan steril dari gangguan jamur akar.

Menurt data, luas kebun kopi di Bener Meriah tahun 2007 mencapai 37.816 hektare yang tersebar dalam tujuh kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Pintu Rime Gayo 6.287 hektare, Timang Gajah 7.481,30 hektare, Wih Pesam 2.595 hektare, Bukit 2.634 hektare, Bandar 5.367 hektare, Permata 8.875 hektare, dan Kecamatan Syiah Utama 4.576 hektare.

Warisan konflik

Serangan jamur akar dan hama penggerek buah pada tanaman kopi di Bener Meriah benar-benar membuat petani kopi di kabupaten pemekaran Aceh Tengah tersebut terpukul. Apalagi berdasarkan pendapat sejumlah pakar pertanian yang pernah meneliti penyakit jamur akar, penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan dan menyerang tanaman kopi hingga mati.

Seorang petani di Kecamatan Permata, Rasyidin Aman Muhamad, Jumat (3/7) mengatakan, sejak awal konflik, ribuan hektare kebun kopi di Kabupaten Bener Meriah tak terawat sehingga lahan kopi ditumbuhi gulma dengan jumlah banyak yang menyebabkan tanaman kopi menjadi terganggu. Lama kelamaan batang kopi berjamur diikuti dengan rontoknya daun yang akhirnya menyebabkan kopi menjadi kering-kerontang hingga akhirnnya mati, ujar Aman Muhammad.

Mengenai ancaman jamur akar, menurut Aman Muhammad, sebelumnya tidak pernah mengetahuinya. Petani hanya beranggapan bahwa kopi tersebut terpuruk akibat tidak pernah dirawat.

Akan tetapi, sejak Pemkab Bener Meriah menjelaskan tentang hal tersebut, petani mulai melakukan langkah-langkah yang dianjurkan pemerintah, antara lain dengan menggunakan biofungisida Trichoderma SP. Biofungisida ini ditaburkan pada tanah yang sebelmnya digali sedemikian rupa di sisi batang kopi. Mungkin juga karena lahan kopi ditumbuhi gulma, meransang jamur akar berkembang dengan cepat, begitu perkiraan Aman Muhammad.

Emergency

Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar mengatakan, kopi di daerahnya saat ini emergency (darurat). Hal ini dikaitkan dengan penularan penyakit jamur akar yang cukup cepat meliputi delapan batang kopi di sekitarnya, atau sekitar radius 20 meter dari batang kopi yang telah terserang jamur akar.

Penaburan biofungisida harus tetap digalakkan, karena meskipun dilakukan tanam ulang, tanah bekas tanaman kopi sebelumnya masih terkontaminasi jamur akar sehingga harus disterilkan terlebih dahulu, demikian keterangan Tagore .(c19)

Dewan Minta Genap Mufakat Diaudit

BANDA ACEH-Kalangan DPR Aceh meminta Gubernur Irwandi Yusuf mengaudit secara menyeluruh Perusahaan Daerah (PD) Genap Mufakat, mengingat tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. Hasil penjualan ekspor dan lokal dari perusahaan yang dikucuri dana senilai Rp 3,9 miliar ini dilaporkan nihil.

“Dalam laporan keuangan perhitungan laba rugi per 31 Desember 2006 penjualan ekspor dan penjualan lokal dilaporkan nihil kecuali komisi/fee Rp 93,9 juta,” kata anggota DPRA Drs Zulkarnen dalam pemandangan umum anggota DPR terhadap nota perhitungan APBD 2006, kemarin.

Menurut anggota FPBB ini, pada tahun 2006 PD Genap Mufakat mendapat kucuran dana dari APBD Aceh sebesar Rp.3,9 miliar. Namun realisasi dana ditemukan kejanggalan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan dengan baik.

Hal serupa juga dikemukakan Bustanul Arifin dan H Iskandar. Menurut mereka, perusahaan daerah yang sahamnya juga dimiliki oleh Holland Coffee dengan komposisi 70 – 30 persen itu, manajemennya perlu direformasi.

Anggota DPR A dari F Demokrat Jamaluddin T Muku menyebutkan selayaknya perusahaan daerah tersebut diserahkan saja pengelolaannya kepada pemerintah kabupaten Bener Meriah karena pemerintah setempat sudah siap mengelolanya.

“Selama ini PD Genap Meupakat hanya menjadi parasit yang menggerogoti APBA. Sudah beberapa kali ganti manajemen tidak ada yang becus,” tegasnya.

Ke depan, perusahaan ini diharapkan dapat bertindak sebagi lokomotif ekspor kopi arabika yang dihasilkan oleh para petani di dataran tinggi Gayo. Bukan oleh perusahaan lain dalam rangka menambah PAD. (fau)

Kembangkan Lagi Kopi Gayo

MEDAN - APED (Aceh Partnership for Economic Development Programe) sebuah LSM yang berbasis pembangunan ekonomi Aceh, Sabtu (9/6) lalu menggelar Pertemuan Forum Kopi Aceh IX Menuju Keunggulan yang Berdaya Saing, di Medan. Pertemuan yang turut dihadiri Bupati Aceh Tengah dan Bupati Bener Meriah itu dimaksudkan untuk membangkitkan kembali ketenaran kopi Gayo yang sempat terpuruk semasa konflik.

Dalam forum itu menampilkan lima pemakalah yaitu Kepala Bappeda Aceh Prof DR Abdul Rahman Lubis MSc, KADIN Aceh yang diwakili Qudus Arba, Ketua Bersama Forum Kopi Aceh Mustafa Ali, Asosiasi Eksportir Kopi Aceh TM Razali, dan Project Manager APED, M Madya Akbar.

Prof DR Abdul Rahman Lubis MSc dalam paparannya menyatakan, peran dan kedudukan forum kopi Aceh dalam membangun industri kopi yang kuat, sangat diharapkan bisa memberi kontribusi yang lebih baik dalam meningkatkan pertumbuhan Aceh. Kopi Gayo, katanya, memiliki nilai ekonomis yang relatif tinggi di pasaran dunia sehingga pengembangannya memerlukan keterpaduan unsur-unsur subsistem, mulai dari penyediaan produksi, budidaya sampai ke pemasaran hasil.

Bupati Bener Meriah Ir H Tagore Abubakar dalam forum itu menyatakan, secara fakta masyarakat petani sebagai pelaku langsung dari usaha perkebunan kopi, masih saja kurang begitu diuntungkan dengan berbagai kebijakan dan ulah segelintir pedagang. Menurut Tagore, para petani kopi menanam kopi hanya untuk sekedar menyambung hidup, karena terkadang tidak kuat menghadapi pasar. Padahal, permintaan pasar dunia semakin tinggi dan tuntutan akan kualitas juga terus meningkat.

Dalam pertemuan yang merupakan kelanjutan dari Forum Kopi Aceh VIII yang digelar di Aceh Tengah pada 30 Maret lalu itu disepakati untuk mewujudkan Aceh menjadi provinsi penghasil kopi terdepan APED akan membangun klaster kopi pada industri kopi di Bener Meriah dan Aceh Tengah dan berencana membangun klaster lainnya seperti coklat, kakao, peternakan sapi, karet, hingga budidaya tambak dan lainnya.(lau)

Kopi Gayo Pelengkap Pameran Foto di Jepang

Bertepatan dengan peringatan dua tahun tsunami hari ini (Selasa, 26/12), GBI (Graha Budaya Indonesia dan JAN (Japan Aceh Net) menggelar pameran foto tsunami di Tokyo, Jepang. Tak kurang dari 30 foto berwarna karya fotografer harian Serambi Indonesia dan 3 lukisan Mahdi Abdullah ikut hadir.

Seiichi Okawa, ketua pameran yang juga kepala biro sebuah stasiun TV swasta terkemuka dari Indonesia dalam rilisnya ke Serambi, Senin (25/12) menyatakan pameran foto ini sebagai ajang peringatan dua tahun tsunami akan dilaksanakan selama tiga hari, 26-29 Desember 2006. Menurut dia, warga internasional mulai melupakan bencana bersejarah itu.

Melalui ajang ini, katanya, orang-orang akan kembali mengingat betapa dahsyatnya tsunami yang telah menghantam Aceh. Selain foto dan lukisan, GBI dan JAN akan memamerkan pula berbagai jenis

produk sulaman (bordiran) khas Aceh, dan barang-barang yang lain asal Aceh, antara lain: CD, VCD, dan berbagai jenis kain tradisional Aceh.

Okawa mengatakan kopi Gayo akan melengkapi pameran foto itu sekaligus menghangatkan badan para pengunjung dalam musim salju ini yang sedang melanda Jepang. Dia menambahkan kerjasama GBI/JAN dengan Harian Serambi Indonesia bukanlah yang pertama kali.

Disebutkan, setengah bulan setelah terjadi bencana gempa/tsunami di NAD, juga digelar pameran foto bencana tsunami di lebih 20 tempat di dalam negeri Jepang pada periode Januari s/d Nopember 2005 dengan menampilkan foto-foto jurnalistik dari Serambi Indonesia dan GBI/JAN

Berkat pameran foto tersebut, ungkapnya, berhasil terkumpul sejumlah dana dari masyarakat Jepang. Dana ini dimanfaatkan untuk lomba mengambar, mengarang di Banda Aceh pada April-Mei 2005, juga untuk membuat buku “Tsunami Aceh Getarkan Dunia”, buku gambar “Nyawoung”, juga buku kumpulan sajak Aceh “Lagu Keluh”––

bekerjasama dengan Aliansi Sastrawan Aceh (ASA).
GBI menurut pengakuan Okawa, sedang merencanakan pameran budaya/produk Aceh pada April-Mei 2007 di Tokyo. Hal ini bertujuan memperkenalkan “wajah” Aceh melalui berbagai komoditi khas Aceh. “Nama Aceh sudah dikenal di seluruh dunia akibat bencana. Kini Aceh perlu memperlihatkan diri melalui berbagai potensi agar kian mandiri secara ekonomi” ujar Okawa.(tri)

Genap Mupakat Promosikan Kopi Organik

BANDA ACEH - Perusahaan Daerah (PD) Gunap Mupakat, salah satu perusahaan penampung kopi rakyat di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, sejak Rabu hingga Minggu (20-24/12) mempromosikan “Kopi Gayo Organik” dalam Pagelaran Produksi Unggulan Indonesia yang berlangsung di Jakarta Cenvention Centre (JCC).

Direktur Utama PD Genap Mupakat, Ir H Taufiq MS SU dalam rilis yang dikirim ke Serambi kemarin menyatakan, kopi organik yang dipromosikan itu berupa bubuk kopi “Gayo Coffe”, dan biji kopi siap ekspor.

Dikatakannya, kopi yang dihasilkan oleh masyarakat di dataran tinggi Gayo (Aceh Tengah dan Bener Meriah) adalah kopi yang dibudidayakan dengan sistem ramah lingkungan, bebas pestisida dan bahan kimia lainnya. “Karena itu Kopi Gayo Organik sangat digemari oleh masyarakat internasional,” katanya.

Kecuali PD Genap Mupakat, beberapa perusahaan yang berasal dari Aceh lainnya juga turut berpartisipasi dalam pagelaran yang diikuti oleh sekitar 200 perusahaan lokal dari seluruh provinsi di Indonsia. Diantara perusahaan asal Aceh adalah UD Ridha Utama (Aceh Selatan) yang mempromosikan hasil home indutry berupa Syrop Pala dan Manisan Pala.

Selain itu, Usaha Dendeng Aceh (Banda Aceh) yang mempromosikan dendeng merk Dendeng Aceh Seulawah. Juga Ayu Bordir and Designer yang mempromosikan karya bordir khas Aceh, dan handicraft khas Aceh. Dan PT Tenaga Tani Farma (Banda Aceh/Jakarta), mempromosikan jamu Aceh yang sudah terkenal ke manca negara.

Taufiq menghimbau perusahaan-perusahaan lain yang ada di Aceh hendaknya ikut juga berpromosi seperti ini agar produknya bisa dikenal, disayang, dan dicari oleh konsumen. Pagelaran Produksi Unggulan Indonesia ini diresmikan oleh Menteri Perdagangan RI, Marie Elka Pangestu.(usb)