Medan, Kompas - Pengusaha Amerika Serikat yang tergabung dalam Roaster’s Guild of America membantu pengembangan petani kopi di Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darusalam. Bantuan dalam bentuk edukasi itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kopi Sumut dan Aceh yang dikenal memiliki potensi tinggi.
"Secara kualitas sangat berpotensi. Tapi, sayang, kualitasnya tidak bisa stabil. Jika tidak berkualitas, tidak bisa bersaing dengan kopi dari negara lain," tutur Geoff Watts yang juga Juru Bicara Roaster’s Guild of America, Selasa (6/11) di Medan.
Geoff datang bersama tujuh pengusaha kopi di AS. Selama seminggu, mereka mengunjungi NAD dan melihat langsung petani Aceh Tengah dan Bener Meriah mengolah kopi gayo. Kunjungan ini dilakukan sebagai kelanjutan pertemuan dengan Gubernur Aceh Irwandy Yusuf di AS.
"Saya terkejut, petani di Aceh masih memakai cara tradisional. Salah satunya dengan mengeringkan kopi di atas tanah. Proses seperti itu sangat memengaruhi kualitasnya," tuturnya.
Para pengusaha AS ingin berbagi pengetahuan cara memproses kopi agar nilai jualnya menjadi tinggi. Geoff mengatakan, proses pengolahan kopi dengan teknik yang baik akan menghasilkan kopi berkualitas sehingga nilai jual kopi bisa jauh lebih tinggi. "Mengubah kebiasaan memang susah. Para petani belum banyak yakin, dengan kopi yang berkualitas akan mendapatkan harga lebih tinggi," katanya.
Kunjungan berikutnya dimulai Selasa di Sumut. Para pengusaha mengunjungi Kabupaten Humbang Hasundutan yang sudah mengembangkan kopi lintong sebagai produk unggulan. Roaster’s Guild bersama tenaga ahli Indonesia terlibat dalam pendirian "sekolah kopi" di Desa Sitio-Tio, Sigumpar, Humbang Hasundutan.
Pendirian sekolah merupakan salah satu dari bentuk keterlibatan pengusaha AS membantu petani kopi Indonesia. Sekolah yang sudah disiapkan 1,5 tahun itu akan mulai beroperasi bulan depan. Pengajaran sekolah yang mirip dengan model pemagangan itu dilakukan sarjana ahli kopi dari Kosta Rika.
"Dia sudah ahli di bidangnya. Pengajar dari Kosta Rika akan mendidik anak lulusan sekolah pertanian selama tiga bulan. Setelah selesai tiga bulan, ada program berikutnya dalam waktu yang sama. Harapan kami, mereka yang lulus dari sekolah itu bisa menularkan ilmu pengolahan kopi mulai dari penanaman sampai panen kepada petani kopi lain," kata tenaga ahli PT Volkopi Indonesia Eko Purnomowidi.
Alan Nietlisbach dari Volcafe Speciality Coffee AS mengatakan, pasaran kopi Indonesia di AS kalah dominan dari kopi Kolombia. Dia berharap, kopi Indonesia asal Aceh dan Sumut bisa menembus pasar AS. Persoalannya, pendekatan para pengusaha kopi sekarang adalah pendekatan kualitas. (NDY)
Sunday, December 23, 2007
Asosiasi Kopi Permudah Hubungan Aceh - Amerika
SERAMBI INDONESIA (HARIAN) ; 22/9 ; Wakil Presiden Kopi Organik dari perusahaan Royal Coffee, Amerika Serikat (AS), John Cossette, menyarankan agar Aceh segera membentuk Aceh Coffee Association (Asosiasi Perkopian Aceh).
Asosiasi itu nantinya akan menjadi penghubung antara pembeli kopi di AS dengan produsen kopi di Aceh, sehingga apa yang diproduksi di Aceh sesuai dengan spesifikasi kopi yang diinginkan pasar AS.
Gagasan itu dikemukakan John Cossette dalam pertemuan business roundtable dengan para importir dan pengolah kopi di World Affair Council, San Fransisco, Rabu (19/9) waktu setempat atau Kamis malam waktu Indonesia barat.
Diskusi yang melibatkan para pengusaha Aceh itu dibuka Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, berlangsung dalam suasana interaktif, konstruktif, dan dihadiri lebih dari 20 pengusaha pembeli kopi dari negara bagian Kalifornia, Amerika Serikat (AS).
Menurut John Cossette, asosiasi perkopian di sebuah negara, seperti AS, bisa menangani langsung kebijakan produksi kopi yang berorientasi pasar, bukan cuma semata-mata menggenjot produktivitas per hektare dalam sebidang kebun kopi.
Memperkuat gagasannya tentang pentingnya asosiasi kopi Aceh itu segera dibentuk, John Cossette mengatakan, para importir dan pembeli kopi di AS bersedia menjadi tim asistensi demi mendongkrak kapasitas asosiasi tersebut melalui program training atau program sejenisnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendekatan generik terhadap bisnis kopi yang hanya mengandalkan kuantitas, apabila hal itu dilakukan oleh seluruh negara produsen kopi dunia, maka akan menyebabkan over supply. Di sisi lain, hal itu tetap menyisakan gap (jurang) yang besar antara para penikmat kopi stylist yang menginginkan kopi premium, dengan kekosongan produk kopi premium yang tersedia di pasar. “Ini adalah tantangan, tetapi sekaligus peluang. Beberapa negara Afrika seperti Kenya dan Rwanda sudah bergerak ke arah ini,” kata Cossette yang mengaku perusahaannya telah mengimpor kopi dari berbagai belahan dunia sejak tahun 1978.
Apa yang digagas John Cossette itu ditanggapi positif oleh Ir Taufik MS, salah seorang rombongan delegasi Aceh yang menyertai lawatan Gubernur Aceh ke AS. Taufik yang Direktur Utama PD Geunap Mupakat, BUMD penghasil dan pengolah kopi di Aceh Tengah, menyambut baik ide pembentukan asosiasi tersebut. “Dengan adanya asosiasi itu maka kita dapat mendengar langsung apa keinginan pasar, sehingga apa yang kita hasilkan adalah apa yang diinginkan pasar,” kata Taufik sebagaimana dikutip dan dilaporkan Syafruddin Chan, Kepala Investor Outrecht Office Banda Aceh yang ikut dalam pertemuan itu kepada Serambi, Jumat pagi.
Menurutnya, dalam pertemuan itu dibicarakan juga keinginan beberapa pihak untuk memperbaiki infrastruktur yang terkait dengan industri perkopian di Aceh, di samping keinginan untuk mengangkat taraf hidup petani kopi dengan cara membelinya lebih tinggi di tingkat petani.
Beda dengan dulu
Dalam diskusi itu, Geoff Watts, Wakil Presiden Intellegentia Coffee, salah satu pembeli green coffee di Amerika, menambahkan bahwa pasar kopi dunia sekarang beda dengan dulu. Dulu, kopi apa pun yang dijual akan dibeli konsumen, karena konsumen kopi memang tak punya pilihan lain. Akan tetapi, penikmat kopi sekarang makin pintar dan selektif. Mereka akan mencari kopi yang benar-benar bercitarasa unik dan spesial.
Untuk itu, mereka berani bayar dengan harga berapa pun. Oleh sebab itu, Aceh harus punya premium product yang bisa dibeli dengan harga premium (premium price). “Aceh harus tahu berapa harga tertinggi (ceiling price) yang bisa diterima pasar sekarang dan go for it,” kata Geoff Watts.
Tanpa pembedaan citarasa produk, lanjut Watts, maka kopi Aceh tidak akan pernah punya awareness di pasar kopi dunia. “Apalagi sekarang merek yang dikenal di Amerika bukan kopi Aceh, melainkan kopi Sumatera.”(dik)
Asosiasi itu nantinya akan menjadi penghubung antara pembeli kopi di AS dengan produsen kopi di Aceh, sehingga apa yang diproduksi di Aceh sesuai dengan spesifikasi kopi yang diinginkan pasar AS.
Gagasan itu dikemukakan John Cossette dalam pertemuan business roundtable dengan para importir dan pengolah kopi di World Affair Council, San Fransisco, Rabu (19/9) waktu setempat atau Kamis malam waktu Indonesia barat.
Diskusi yang melibatkan para pengusaha Aceh itu dibuka Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, berlangsung dalam suasana interaktif, konstruktif, dan dihadiri lebih dari 20 pengusaha pembeli kopi dari negara bagian Kalifornia, Amerika Serikat (AS).
Menurut John Cossette, asosiasi perkopian di sebuah negara, seperti AS, bisa menangani langsung kebijakan produksi kopi yang berorientasi pasar, bukan cuma semata-mata menggenjot produktivitas per hektare dalam sebidang kebun kopi.
Memperkuat gagasannya tentang pentingnya asosiasi kopi Aceh itu segera dibentuk, John Cossette mengatakan, para importir dan pembeli kopi di AS bersedia menjadi tim asistensi demi mendongkrak kapasitas asosiasi tersebut melalui program training atau program sejenisnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendekatan generik terhadap bisnis kopi yang hanya mengandalkan kuantitas, apabila hal itu dilakukan oleh seluruh negara produsen kopi dunia, maka akan menyebabkan over supply. Di sisi lain, hal itu tetap menyisakan gap (jurang) yang besar antara para penikmat kopi stylist yang menginginkan kopi premium, dengan kekosongan produk kopi premium yang tersedia di pasar. “Ini adalah tantangan, tetapi sekaligus peluang. Beberapa negara Afrika seperti Kenya dan Rwanda sudah bergerak ke arah ini,” kata Cossette yang mengaku perusahaannya telah mengimpor kopi dari berbagai belahan dunia sejak tahun 1978.
Apa yang digagas John Cossette itu ditanggapi positif oleh Ir Taufik MS, salah seorang rombongan delegasi Aceh yang menyertai lawatan Gubernur Aceh ke AS. Taufik yang Direktur Utama PD Geunap Mupakat, BUMD penghasil dan pengolah kopi di Aceh Tengah, menyambut baik ide pembentukan asosiasi tersebut. “Dengan adanya asosiasi itu maka kita dapat mendengar langsung apa keinginan pasar, sehingga apa yang kita hasilkan adalah apa yang diinginkan pasar,” kata Taufik sebagaimana dikutip dan dilaporkan Syafruddin Chan, Kepala Investor Outrecht Office Banda Aceh yang ikut dalam pertemuan itu kepada Serambi, Jumat pagi.
Menurutnya, dalam pertemuan itu dibicarakan juga keinginan beberapa pihak untuk memperbaiki infrastruktur yang terkait dengan industri perkopian di Aceh, di samping keinginan untuk mengangkat taraf hidup petani kopi dengan cara membelinya lebih tinggi di tingkat petani.
Beda dengan dulu
Dalam diskusi itu, Geoff Watts, Wakil Presiden Intellegentia Coffee, salah satu pembeli green coffee di Amerika, menambahkan bahwa pasar kopi dunia sekarang beda dengan dulu. Dulu, kopi apa pun yang dijual akan dibeli konsumen, karena konsumen kopi memang tak punya pilihan lain. Akan tetapi, penikmat kopi sekarang makin pintar dan selektif. Mereka akan mencari kopi yang benar-benar bercitarasa unik dan spesial.
Untuk itu, mereka berani bayar dengan harga berapa pun. Oleh sebab itu, Aceh harus punya premium product yang bisa dibeli dengan harga premium (premium price). “Aceh harus tahu berapa harga tertinggi (ceiling price) yang bisa diterima pasar sekarang dan go for it,” kata Geoff Watts.
Tanpa pembedaan citarasa produk, lanjut Watts, maka kopi Aceh tidak akan pernah punya awareness di pasar kopi dunia. “Apalagi sekarang merek yang dikenal di Amerika bukan kopi Aceh, melainkan kopi Sumatera.”(dik)
Wednesday, November 14, 2007
Garuda Suguhkan Kopi Gayo untuk Calon Jemaah Haji
BANDA ACEH–Garuda Indonesia menyiapkan dua pesawat Air Bus tipe 330 untuk mengangkut calon jamaah haji (CJH) Aceh. Pesawat dengan kapasitas muatan lebih dari 300 penumpang itu hanya satu digunakan untuk memberangkatkan jemaah haji, sedangkan satunya lagi tetap standby sebagai cadangan.
General Manager Garuda Banda Aceh, Banjari Suhardi mengatakan, dua pesawat garuda itu hingga saat ini masih berada di Jakarta, sambil menunggu keberangkatan perdana 17 November mendatang. Rencananya pesawat yang akan digunakan hanya satu unit, sementara satu unit lagi siaga di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta.
Dia menyebutkan, selama dalam perjalanan, para calon jamaah haji (CJH) akan mendapatkan jatah makan sebanyak 2 kali dan sekali snack (makanan ringan) dengan menu makanan bercirikan khas ke Acehan, yaitu Keumamah dan snack disuguhkan dengan kopi Gayo.
General Manager Garuda Banda Aceh, Banjari Suhardi mengatakan, dua pesawat garuda itu hingga saat ini masih berada di Jakarta, sambil menunggu keberangkatan perdana 17 November mendatang. Rencananya pesawat yang akan digunakan hanya satu unit, sementara satu unit lagi siaga di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta.
Dia menyebutkan, selama dalam perjalanan, para calon jamaah haji (CJH) akan mendapatkan jatah makan sebanyak 2 kali dan sekali snack (makanan ringan) dengan menu makanan bercirikan khas ke Acehan, yaitu Keumamah dan snack disuguhkan dengan kopi Gayo.
Dataran Tinggi Gayo Merupakan Perkebunan Kopi Terluas di Indonesia
Takengon – Pakar Ekonomi yang juga mantan Gubernur Aceh, Prof. DR. H. Syamsudin Mahmud menyatakan kualitas kopi Gayo yang telah dikenal di manca negera itu harus dapat terus dipertahankan. Karena dari segi cita rasanya, kopi Gayo memiliki prospek pasar yang cukup cerah.
Syamsuddin Mahmud yang mengadakan pertemuan silaturahmi dengan Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM Kamis (25/10) malam di Pendopo Takengon menyebutkan, areal perkebunan kopi di daerah dataran tinggi Gayo, kata mantan Gubernur Aceh priode 1993 - 2000 merupakan perkebunan kopi terluas di Indonesia, setelah Timor –Timor. Namun kini perkebunan kopi di Timor-Timor yang hanya 7000 herktar itu sudah tidak ada lagi.
Menurut Syamsuddin mahmud yang dalam usianya 73 tahun itu, namun masih tetap energik, tanaman kopi jenis arabica telah mulai dikembangkan oleh Belanda di Aceh Tengah pada tahun 1926. Malah, sekitar tahun 1976 Belanda mengirim dua orang guru besar yang merupakan pakar tanaman kopi yakni, Prof. Menez dan Prof. Boss, dari Rotterdam, untuk meneliti lebih jauh tanaman kopi yang ada di daerah seribu gunung ini.
Waktu itu kata Syamsuddin, ia baru kembali dari Belgia untuk mendampingi kedua ahli kopi untuk melakukan penelitian di Aceh Tengah. Dari hasil penelitian tersebut, tambah Syamsuddin, sekitar tahun 1983 hasil kerja sama Pemerintah Belanda dengan Aceh membangun pabrik processing kopi dengan nama LTA 77 yang berlokasi di Kampung Pondok Gajah, Kecamatan Bandar.
Program Belanda sendiri waktu itu adalah melakukan pembangunan jalan-jalan desa yang diidentifikasi sebagai sentral kopi, membangun pabrik pengolahan kopi basah, serta pembinaan petani kopi. Produksi kopi milik petani yang ditampung oleh LTA 77 yang selanjutnya diproses menjadi kopi biji kering dengan label Gayo Mountain Coffee. Selain biji kopi kering, perusahaan itu juga memproduksi bubuk kopi dengan label yang sama. “Nah label inilah yang harus kita pertahankan”, pinta Syamsuddin Mahmud.
Karena sejak hadirnya pabrik pengolahan kopi basah, nama kopi Gayo dikenal oleh negara-negara konsumen kopi dunia. Salah satu negara pertama sasaran eksport kopi Gayo adalah Jepang. Pihak perusahaan melalui Mitsui Company mengeksport kopi ke negara Sakura tersebut. Di pasaran di negara itu masih kata Syamsuddin, produk Gayo Mountain Coffee menduduki urutan kedua setelah Blue Mountain Coffee dari Jamaika. “Sebenarnya dari segi cita rasa dan aroma, Gayo Mountain Coffee lah yang paling enak”, sebut Syamsuddin.
Syamsuddin mengakui, dia sudah hampir tujuh tahun tidak mengunjungi kota dataran tinggi Gayo itu. Makanya, bila ia merasa rindu dengan Aceh Tengah, ia akan tetap teringat dengan kopi Gayo. Untuk Syamsudin Mahmud yang kini menetap di Jakarta, sealalu memesan kopi Gayo. Karena jasa-jasanya dalam merintis berdirinya Perusahaan Daerah Gernap Mupakat (PDGM), pihak perusahaan tersebut mengirimkan bubuk kopi untuk Pak Syam panggilan akrab Syamsuddin Mahmud dengan jenis bubuk kopi jenis Moca. “Sampai sekarang kan masih ada kopi jenis moca itu dikembangkan di perkebunan milik perusahaan itu”, tanya Syamsuddin.
Untuk itu Syamsuddin berkali-kali berharap agar label Gayo Mountain Coffee yang telah berhasil merebut pasaran tersebut dapat terus dipertahankan. Pak Syam kembali menceritakan pengalamannya dalam lawatan ke negara Swiss. Di negara tersebut para ahli kopi melakukan penelitian terhadap kopi organik setiap tahunnya.
Sisi lain Syamsudin menyatakan kekaguman terhadap potensi besar yang dimiliki oleh Aceh Tengah. Daerah negeri Peteri Bensu itu, tidak hanya dikenal sebagai kawasan lumbung kopi terbesar di Indonesia. Lebih dari itu, Syamsudin menggambarkan, alam Aceh Tengah seperti alamnya Swiss. Lahan yang subur dan potensi yang cukup besar itu sangat menjanjikan untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
Menjawab harapan Syamsuddin Mahmud terhadap label Gayo Mountain Coffee, Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM yang ditanyai terpisah menyatakan, Pemda terus melakukan berbagai upaya untuk tetap mempertahankan nama sekaligus kualitas kopi Gayo. Menurut Nasaruddin, masukan-masukan yang disampaikan Syamsudin Mahmud yang memiliki banyak pengalaman baik dalam bidang pemerintahan maupun berbagai bidang lainnya, merupakan masukan berharga untuk kemajuan daerah itu.
Karena kata Nasaruddin, sumbangsih mantan Gubernur Aceh terhadap Aceh Tengah, khususnya dengan berdirinya PDGM sangat besar. Untuk itu meski apapun hambatan yang ada di PDGM, Pemda akan terus berupaya mencari jalan keluarnya. “Apa yang telah dirintis oleh Pak Syam harus terus kita pertahankan”, ujar Nasaruddin.
Syamsuddin Mahmud yang mengadakan pertemuan silaturahmi dengan Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM Kamis (25/10) malam di Pendopo Takengon menyebutkan, areal perkebunan kopi di daerah dataran tinggi Gayo, kata mantan Gubernur Aceh priode 1993 - 2000 merupakan perkebunan kopi terluas di Indonesia, setelah Timor –Timor. Namun kini perkebunan kopi di Timor-Timor yang hanya 7000 herktar itu sudah tidak ada lagi.
Menurut Syamsuddin mahmud yang dalam usianya 73 tahun itu, namun masih tetap energik, tanaman kopi jenis arabica telah mulai dikembangkan oleh Belanda di Aceh Tengah pada tahun 1926. Malah, sekitar tahun 1976 Belanda mengirim dua orang guru besar yang merupakan pakar tanaman kopi yakni, Prof. Menez dan Prof. Boss, dari Rotterdam, untuk meneliti lebih jauh tanaman kopi yang ada di daerah seribu gunung ini.
Waktu itu kata Syamsuddin, ia baru kembali dari Belgia untuk mendampingi kedua ahli kopi untuk melakukan penelitian di Aceh Tengah. Dari hasil penelitian tersebut, tambah Syamsuddin, sekitar tahun 1983 hasil kerja sama Pemerintah Belanda dengan Aceh membangun pabrik processing kopi dengan nama LTA 77 yang berlokasi di Kampung Pondok Gajah, Kecamatan Bandar.
Program Belanda sendiri waktu itu adalah melakukan pembangunan jalan-jalan desa yang diidentifikasi sebagai sentral kopi, membangun pabrik pengolahan kopi basah, serta pembinaan petani kopi. Produksi kopi milik petani yang ditampung oleh LTA 77 yang selanjutnya diproses menjadi kopi biji kering dengan label Gayo Mountain Coffee. Selain biji kopi kering, perusahaan itu juga memproduksi bubuk kopi dengan label yang sama. “Nah label inilah yang harus kita pertahankan”, pinta Syamsuddin Mahmud.
Karena sejak hadirnya pabrik pengolahan kopi basah, nama kopi Gayo dikenal oleh negara-negara konsumen kopi dunia. Salah satu negara pertama sasaran eksport kopi Gayo adalah Jepang. Pihak perusahaan melalui Mitsui Company mengeksport kopi ke negara Sakura tersebut. Di pasaran di negara itu masih kata Syamsuddin, produk Gayo Mountain Coffee menduduki urutan kedua setelah Blue Mountain Coffee dari Jamaika. “Sebenarnya dari segi cita rasa dan aroma, Gayo Mountain Coffee lah yang paling enak”, sebut Syamsuddin.
Syamsuddin mengakui, dia sudah hampir tujuh tahun tidak mengunjungi kota dataran tinggi Gayo itu. Makanya, bila ia merasa rindu dengan Aceh Tengah, ia akan tetap teringat dengan kopi Gayo. Untuk Syamsudin Mahmud yang kini menetap di Jakarta, sealalu memesan kopi Gayo. Karena jasa-jasanya dalam merintis berdirinya Perusahaan Daerah Gernap Mupakat (PDGM), pihak perusahaan tersebut mengirimkan bubuk kopi untuk Pak Syam panggilan akrab Syamsuddin Mahmud dengan jenis bubuk kopi jenis Moca. “Sampai sekarang kan masih ada kopi jenis moca itu dikembangkan di perkebunan milik perusahaan itu”, tanya Syamsuddin.
Untuk itu Syamsuddin berkali-kali berharap agar label Gayo Mountain Coffee yang telah berhasil merebut pasaran tersebut dapat terus dipertahankan. Pak Syam kembali menceritakan pengalamannya dalam lawatan ke negara Swiss. Di negara tersebut para ahli kopi melakukan penelitian terhadap kopi organik setiap tahunnya.
Sisi lain Syamsudin menyatakan kekaguman terhadap potensi besar yang dimiliki oleh Aceh Tengah. Daerah negeri Peteri Bensu itu, tidak hanya dikenal sebagai kawasan lumbung kopi terbesar di Indonesia. Lebih dari itu, Syamsudin menggambarkan, alam Aceh Tengah seperti alamnya Swiss. Lahan yang subur dan potensi yang cukup besar itu sangat menjanjikan untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
Menjawab harapan Syamsuddin Mahmud terhadap label Gayo Mountain Coffee, Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM yang ditanyai terpisah menyatakan, Pemda terus melakukan berbagai upaya untuk tetap mempertahankan nama sekaligus kualitas kopi Gayo. Menurut Nasaruddin, masukan-masukan yang disampaikan Syamsudin Mahmud yang memiliki banyak pengalaman baik dalam bidang pemerintahan maupun berbagai bidang lainnya, merupakan masukan berharga untuk kemajuan daerah itu.
Karena kata Nasaruddin, sumbangsih mantan Gubernur Aceh terhadap Aceh Tengah, khususnya dengan berdirinya PDGM sangat besar. Untuk itu meski apapun hambatan yang ada di PDGM, Pemda akan terus berupaya mencari jalan keluarnya. “Apa yang telah dirintis oleh Pak Syam harus terus kita pertahankan”, ujar Nasaruddin.
KBQB Ekspor Biji Kopi Gayo 392,7 Ton
TAKENGON-Koperasi Baitul Qirad Baburrayyan (KBQB) telah melakukan ekspor perdana kopi Gayo dengan total 392.700 kilogram ke berbagai negara di dunia. Dengan total perolehan uang Rp 12.579.651.900 atau setara (USD$ 1.372.107).
Sementara sejak priode Januari -Juni 2007, total ekspor kopi Gayo ke mancanegara mencapai 558.000 kilogram dengan total perolehan Rp 18.462.651.282 atau setara (USD$ 2.061.090) atau naik sekitar 30 persen. Demikian dikatakan Ketua Koperasi KBQ Baburrayyan, Rizwan Husein SE kepada koran ini kemarin.
Lebih lanjut dikatakannya, para petani kopi yag masuk sebagai anggota koperasinya dididik dan dibina daam hal budidaya kopi yang tidak memakai pupuk kimia. Pemupukan dilakukan dengan sistem pupuk kompos. Untuk itu semua produksi kopi milik petani yang tidak mempergunakan pupuk kimia ditampung langsung oleh KBQ Baburrayyan dengan harga yang sesuai dunia.
Untuk memotivasi para petani agar menghasilkan produk kopi organik, selain harga kopi, pihak KBQ Baburrayyan juga memberikan fee untuk masing-masing petani.
Untuk tahun 2006 jumlah premi atau fee yang diberikan kepada petani kata Rizwan Huseien tercatat sebesar Rp 4000.036.000. Sementara tahun 2007 diberikan sebesar Rp 800 juta. Dengan pemberian fee ini tambah Rizwan, para petani tetap bersemangat dan enerjik merawat kebun-kebun kopi mereka.
Saat menyerahkan fee kopi organik untuk sekitar 5000 orang petani, Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM juga berharap agar para petani terus merawat kebun kopinya secara organik. Karena harga pasaran kopi organik di pasaran dunia cukup menjanjikan.
Bentuk perhatian lain masih seperti yag dikatakan Rizwan Huseien, disamping memberikan fee, pihak KBQ Babrrayyan juga telah membantu rehabilitasi kebun petani. Hingga kini luas areal kebun kopi petani yang telah direhabilitasi tercatat seluas 392,3 hektar dengan jumlah bibit yang disalurkan sebanyak 588,412 batang.
Tidak hanya sampai di situ, pihak KBQ Babrrayyan juga memberikan jatah hidup (jadup) kepada petani yang kebunnya direhabilitasi. Jadup yang diberikan sudah tercatat sebanyak 26.005 kilo gram, peralatan kerja berupa parangh dan cangkul sebanyak 600 unit, mesin babat rumput sebanyak 291 unit.
Untuk mewujudkan harapan para pecanbdu kopi dunia terhadap kopi organik, pihak KBQ Baburrayyan akan terus melanjutkan program rehabilitasi kebun kopi milik petani. Karena KBQ Babrrayyan juga kini tela mempersiapkan bibit kopi sebanyak 3.361.588 juta batang.
Masih dirinci Rizwan Huseien, anggota Koperasi Baitul Qirad Baburrayyan saat ini tercatat sebanyak 5.432 orang. Dari jumlah itu dibagi dalam empat kelompok, yakni, Kelompok Swadaya Masyarakat 51 orang, Kelompok Karyawan 16 orang, Kelompok Petani Kopi Aceh Tengah sebanmyak 4.567 orang dan Kelompok petani kopi Bener Meriah 798 orang.(win)
Sementara sejak priode Januari -Juni 2007, total ekspor kopi Gayo ke mancanegara mencapai 558.000 kilogram dengan total perolehan Rp 18.462.651.282 atau setara (USD$ 2.061.090) atau naik sekitar 30 persen. Demikian dikatakan Ketua Koperasi KBQ Baburrayyan, Rizwan Husein SE kepada koran ini kemarin.
Lebih lanjut dikatakannya, para petani kopi yag masuk sebagai anggota koperasinya dididik dan dibina daam hal budidaya kopi yang tidak memakai pupuk kimia. Pemupukan dilakukan dengan sistem pupuk kompos. Untuk itu semua produksi kopi milik petani yang tidak mempergunakan pupuk kimia ditampung langsung oleh KBQ Baburrayyan dengan harga yang sesuai dunia.
Untuk memotivasi para petani agar menghasilkan produk kopi organik, selain harga kopi, pihak KBQ Baburrayyan juga memberikan fee untuk masing-masing petani.
Untuk tahun 2006 jumlah premi atau fee yang diberikan kepada petani kata Rizwan Huseien tercatat sebesar Rp 4000.036.000. Sementara tahun 2007 diberikan sebesar Rp 800 juta. Dengan pemberian fee ini tambah Rizwan, para petani tetap bersemangat dan enerjik merawat kebun-kebun kopi mereka.
Saat menyerahkan fee kopi organik untuk sekitar 5000 orang petani, Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM juga berharap agar para petani terus merawat kebun kopinya secara organik. Karena harga pasaran kopi organik di pasaran dunia cukup menjanjikan.
Bentuk perhatian lain masih seperti yag dikatakan Rizwan Huseien, disamping memberikan fee, pihak KBQ Babrrayyan juga telah membantu rehabilitasi kebun petani. Hingga kini luas areal kebun kopi petani yang telah direhabilitasi tercatat seluas 392,3 hektar dengan jumlah bibit yang disalurkan sebanyak 588,412 batang.
Tidak hanya sampai di situ, pihak KBQ Babrrayyan juga memberikan jatah hidup (jadup) kepada petani yang kebunnya direhabilitasi. Jadup yang diberikan sudah tercatat sebanyak 26.005 kilo gram, peralatan kerja berupa parangh dan cangkul sebanyak 600 unit, mesin babat rumput sebanyak 291 unit.
Untuk mewujudkan harapan para pecanbdu kopi dunia terhadap kopi organik, pihak KBQ Baburrayyan akan terus melanjutkan program rehabilitasi kebun kopi milik petani. Karena KBQ Babrrayyan juga kini tela mempersiapkan bibit kopi sebanyak 3.361.588 juta batang.
Masih dirinci Rizwan Huseien, anggota Koperasi Baitul Qirad Baburrayyan saat ini tercatat sebanyak 5.432 orang. Dari jumlah itu dibagi dalam empat kelompok, yakni, Kelompok Swadaya Masyarakat 51 orang, Kelompok Karyawan 16 orang, Kelompok Petani Kopi Aceh Tengah sebanmyak 4.567 orang dan Kelompok petani kopi Bener Meriah 798 orang.(win)
Kopi Gayo Diekspor ke Singapura
TAKENGON-Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM, Sabtu (17/6) di Kampung Mongal, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, melepas keberangkatan tiga unit truk tronton berisi kopi gayo untuk diekspor ke Singapura melalui PT Indo Cafco Ecom Cofee Group.
Pelepasan kopi eksport tersebut, dihadiri Presiden Direktur, Oliver Techit, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, Drs Said Abubakar MM, unsur Muspida dan sejumlah eksportir lokal.
Selain melepas keberangkatan kopi ekspor, pada kesempatan itu bupati juga meresmikan pengoperasian gedung Yayasan Kasih Sayang di Paya Tumpi I, Panti Asuhan Lenge dan Bebesen yang merupakan bantuan Indo Cafco. sekaligus menyerahkan bingkisan ke ketiga yayasan dari Indo Cafco.
Dalam kesemptan itu, Bupati berharap, agar ekspor ini terus berlanjut dan kepada seluruh eksportir untuk tidak merugikan masyarakat seperti mencampur kuwalitas ekspor dengan kopi hasil sortiran.
Karena, praktek ini dapat merugikan masyarakat juga keuntungannnya tidak halal. “Saya berharap kita semua menjaga kuwalitas kopi Gayo. Bekerjalah secara profesional dengan tidak mencammpur kopi berkuwalitas dengan yang tidak berkuwalitas. Karena kesempatan untuk itu terbuka lebar,” kata bupati.
Dalam kesempatan itu, kepada eksportir, bupati juga berharap agar memberikan bantuan bibit kopi kepada petani dengan jenis kopi yang diminati pasaran eksport.
"Jumlah petani di Aceh Tengah 54 ribu KK lebih , Indo Cafco baru membina 1000 KK petani. Jadi masih banyak petani kopi yang harus dibantu dan dibina ,” pinta bupati.
Bupati berharap agar para eksportir memperhatikan sosial kemasyarakatan sebagai salah satu kemitraan membina hubungan sosial. Kepada Indo Cafco, bupati juga berharap agar tidak melakukan praktek pencampuran kopi yang sudah disortir dengan pesel (kopi hasil buangan/sortiran dengan kualitas rendah).
Menurut bupati sangat penting demi menjaga kualitas kopi gayo yang banyak diminati pasaran luar negeri karena cita rasa dan aromanya yang khas.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Drs Said Abubakar menyebutkan, untuk mengurus SPEK sebagai salah satu persyaratan yang harus dimiliki para eksportir, sudah bisa dilakukan di Aceh Tengah.
Sementara yang menyangkut restribusi, khusus para eksportir tidak perlu lagi mebayar di Pos Restribusi di Bukit Sama milik Dispenda Aceh Tengah dan di Km 35, milik Dispenda Bener Meriah.
Selain Indo Cafco, puluhan eksportir lainnya saat ini bersaing mengeksport kopi gayo ke luar negeri. Kebanyakan kopi yang dieksport adalah jenis kopi organic yang disukai di pasar Amerika, Erofa, Jepang dan kini Singapura. (win)
Pelepasan kopi eksport tersebut, dihadiri Presiden Direktur, Oliver Techit, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, Drs Said Abubakar MM, unsur Muspida dan sejumlah eksportir lokal.
Selain melepas keberangkatan kopi ekspor, pada kesempatan itu bupati juga meresmikan pengoperasian gedung Yayasan Kasih Sayang di Paya Tumpi I, Panti Asuhan Lenge dan Bebesen yang merupakan bantuan Indo Cafco. sekaligus menyerahkan bingkisan ke ketiga yayasan dari Indo Cafco.
Dalam kesemptan itu, Bupati berharap, agar ekspor ini terus berlanjut dan kepada seluruh eksportir untuk tidak merugikan masyarakat seperti mencampur kuwalitas ekspor dengan kopi hasil sortiran.
Karena, praktek ini dapat merugikan masyarakat juga keuntungannnya tidak halal. “Saya berharap kita semua menjaga kuwalitas kopi Gayo. Bekerjalah secara profesional dengan tidak mencammpur kopi berkuwalitas dengan yang tidak berkuwalitas. Karena kesempatan untuk itu terbuka lebar,” kata bupati.
Dalam kesempatan itu, kepada eksportir, bupati juga berharap agar memberikan bantuan bibit kopi kepada petani dengan jenis kopi yang diminati pasaran eksport.
"Jumlah petani di Aceh Tengah 54 ribu KK lebih , Indo Cafco baru membina 1000 KK petani. Jadi masih banyak petani kopi yang harus dibantu dan dibina ,” pinta bupati.
Bupati berharap agar para eksportir memperhatikan sosial kemasyarakatan sebagai salah satu kemitraan membina hubungan sosial. Kepada Indo Cafco, bupati juga berharap agar tidak melakukan praktek pencampuran kopi yang sudah disortir dengan pesel (kopi hasil buangan/sortiran dengan kualitas rendah).
Menurut bupati sangat penting demi menjaga kualitas kopi gayo yang banyak diminati pasaran luar negeri karena cita rasa dan aromanya yang khas.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Drs Said Abubakar menyebutkan, untuk mengurus SPEK sebagai salah satu persyaratan yang harus dimiliki para eksportir, sudah bisa dilakukan di Aceh Tengah.
Sementara yang menyangkut restribusi, khusus para eksportir tidak perlu lagi mebayar di Pos Restribusi di Bukit Sama milik Dispenda Aceh Tengah dan di Km 35, milik Dispenda Bener Meriah.
Selain Indo Cafco, puluhan eksportir lainnya saat ini bersaing mengeksport kopi gayo ke luar negeri. Kebanyakan kopi yang dieksport adalah jenis kopi organic yang disukai di pasar Amerika, Erofa, Jepang dan kini Singapura. (win)
Subscribe to:
Posts (Atom)

