BANDA ACEH–Garuda Indonesia menyiapkan dua pesawat Air Bus tipe 330 untuk mengangkut calon jamaah haji (CJH) Aceh. Pesawat dengan kapasitas muatan lebih dari 300 penumpang itu hanya satu digunakan untuk memberangkatkan jemaah haji, sedangkan satunya lagi tetap standby sebagai cadangan.
General Manager Garuda Banda Aceh, Banjari Suhardi mengatakan, dua pesawat garuda itu hingga saat ini masih berada di Jakarta, sambil menunggu keberangkatan perdana 17 November mendatang. Rencananya pesawat yang akan digunakan hanya satu unit, sementara satu unit lagi siaga di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta.
Dia menyebutkan, selama dalam perjalanan, para calon jamaah haji (CJH) akan mendapatkan jatah makan sebanyak 2 kali dan sekali snack (makanan ringan) dengan menu makanan bercirikan khas ke Acehan, yaitu Keumamah dan snack disuguhkan dengan kopi Gayo.
Wednesday, November 14, 2007
Dataran Tinggi Gayo Merupakan Perkebunan Kopi Terluas di Indonesia
Takengon – Pakar Ekonomi yang juga mantan Gubernur Aceh, Prof. DR. H. Syamsudin Mahmud menyatakan kualitas kopi Gayo yang telah dikenal di manca negera itu harus dapat terus dipertahankan. Karena dari segi cita rasanya, kopi Gayo memiliki prospek pasar yang cukup cerah.
Syamsuddin Mahmud yang mengadakan pertemuan silaturahmi dengan Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM Kamis (25/10) malam di Pendopo Takengon menyebutkan, areal perkebunan kopi di daerah dataran tinggi Gayo, kata mantan Gubernur Aceh priode 1993 - 2000 merupakan perkebunan kopi terluas di Indonesia, setelah Timor –Timor. Namun kini perkebunan kopi di Timor-Timor yang hanya 7000 herktar itu sudah tidak ada lagi.
Menurut Syamsuddin mahmud yang dalam usianya 73 tahun itu, namun masih tetap energik, tanaman kopi jenis arabica telah mulai dikembangkan oleh Belanda di Aceh Tengah pada tahun 1926. Malah, sekitar tahun 1976 Belanda mengirim dua orang guru besar yang merupakan pakar tanaman kopi yakni, Prof. Menez dan Prof. Boss, dari Rotterdam, untuk meneliti lebih jauh tanaman kopi yang ada di daerah seribu gunung ini.
Waktu itu kata Syamsuddin, ia baru kembali dari Belgia untuk mendampingi kedua ahli kopi untuk melakukan penelitian di Aceh Tengah. Dari hasil penelitian tersebut, tambah Syamsuddin, sekitar tahun 1983 hasil kerja sama Pemerintah Belanda dengan Aceh membangun pabrik processing kopi dengan nama LTA 77 yang berlokasi di Kampung Pondok Gajah, Kecamatan Bandar.
Program Belanda sendiri waktu itu adalah melakukan pembangunan jalan-jalan desa yang diidentifikasi sebagai sentral kopi, membangun pabrik pengolahan kopi basah, serta pembinaan petani kopi. Produksi kopi milik petani yang ditampung oleh LTA 77 yang selanjutnya diproses menjadi kopi biji kering dengan label Gayo Mountain Coffee. Selain biji kopi kering, perusahaan itu juga memproduksi bubuk kopi dengan label yang sama. “Nah label inilah yang harus kita pertahankan”, pinta Syamsuddin Mahmud.
Karena sejak hadirnya pabrik pengolahan kopi basah, nama kopi Gayo dikenal oleh negara-negara konsumen kopi dunia. Salah satu negara pertama sasaran eksport kopi Gayo adalah Jepang. Pihak perusahaan melalui Mitsui Company mengeksport kopi ke negara Sakura tersebut. Di pasaran di negara itu masih kata Syamsuddin, produk Gayo Mountain Coffee menduduki urutan kedua setelah Blue Mountain Coffee dari Jamaika. “Sebenarnya dari segi cita rasa dan aroma, Gayo Mountain Coffee lah yang paling enak”, sebut Syamsuddin.
Syamsuddin mengakui, dia sudah hampir tujuh tahun tidak mengunjungi kota dataran tinggi Gayo itu. Makanya, bila ia merasa rindu dengan Aceh Tengah, ia akan tetap teringat dengan kopi Gayo. Untuk Syamsudin Mahmud yang kini menetap di Jakarta, sealalu memesan kopi Gayo. Karena jasa-jasanya dalam merintis berdirinya Perusahaan Daerah Gernap Mupakat (PDGM), pihak perusahaan tersebut mengirimkan bubuk kopi untuk Pak Syam panggilan akrab Syamsuddin Mahmud dengan jenis bubuk kopi jenis Moca. “Sampai sekarang kan masih ada kopi jenis moca itu dikembangkan di perkebunan milik perusahaan itu”, tanya Syamsuddin.
Untuk itu Syamsuddin berkali-kali berharap agar label Gayo Mountain Coffee yang telah berhasil merebut pasaran tersebut dapat terus dipertahankan. Pak Syam kembali menceritakan pengalamannya dalam lawatan ke negara Swiss. Di negara tersebut para ahli kopi melakukan penelitian terhadap kopi organik setiap tahunnya.
Sisi lain Syamsudin menyatakan kekaguman terhadap potensi besar yang dimiliki oleh Aceh Tengah. Daerah negeri Peteri Bensu itu, tidak hanya dikenal sebagai kawasan lumbung kopi terbesar di Indonesia. Lebih dari itu, Syamsudin menggambarkan, alam Aceh Tengah seperti alamnya Swiss. Lahan yang subur dan potensi yang cukup besar itu sangat menjanjikan untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
Menjawab harapan Syamsuddin Mahmud terhadap label Gayo Mountain Coffee, Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM yang ditanyai terpisah menyatakan, Pemda terus melakukan berbagai upaya untuk tetap mempertahankan nama sekaligus kualitas kopi Gayo. Menurut Nasaruddin, masukan-masukan yang disampaikan Syamsudin Mahmud yang memiliki banyak pengalaman baik dalam bidang pemerintahan maupun berbagai bidang lainnya, merupakan masukan berharga untuk kemajuan daerah itu.
Karena kata Nasaruddin, sumbangsih mantan Gubernur Aceh terhadap Aceh Tengah, khususnya dengan berdirinya PDGM sangat besar. Untuk itu meski apapun hambatan yang ada di PDGM, Pemda akan terus berupaya mencari jalan keluarnya. “Apa yang telah dirintis oleh Pak Syam harus terus kita pertahankan”, ujar Nasaruddin.
Syamsuddin Mahmud yang mengadakan pertemuan silaturahmi dengan Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM Kamis (25/10) malam di Pendopo Takengon menyebutkan, areal perkebunan kopi di daerah dataran tinggi Gayo, kata mantan Gubernur Aceh priode 1993 - 2000 merupakan perkebunan kopi terluas di Indonesia, setelah Timor –Timor. Namun kini perkebunan kopi di Timor-Timor yang hanya 7000 herktar itu sudah tidak ada lagi.
Menurut Syamsuddin mahmud yang dalam usianya 73 tahun itu, namun masih tetap energik, tanaman kopi jenis arabica telah mulai dikembangkan oleh Belanda di Aceh Tengah pada tahun 1926. Malah, sekitar tahun 1976 Belanda mengirim dua orang guru besar yang merupakan pakar tanaman kopi yakni, Prof. Menez dan Prof. Boss, dari Rotterdam, untuk meneliti lebih jauh tanaman kopi yang ada di daerah seribu gunung ini.
Waktu itu kata Syamsuddin, ia baru kembali dari Belgia untuk mendampingi kedua ahli kopi untuk melakukan penelitian di Aceh Tengah. Dari hasil penelitian tersebut, tambah Syamsuddin, sekitar tahun 1983 hasil kerja sama Pemerintah Belanda dengan Aceh membangun pabrik processing kopi dengan nama LTA 77 yang berlokasi di Kampung Pondok Gajah, Kecamatan Bandar.
Program Belanda sendiri waktu itu adalah melakukan pembangunan jalan-jalan desa yang diidentifikasi sebagai sentral kopi, membangun pabrik pengolahan kopi basah, serta pembinaan petani kopi. Produksi kopi milik petani yang ditampung oleh LTA 77 yang selanjutnya diproses menjadi kopi biji kering dengan label Gayo Mountain Coffee. Selain biji kopi kering, perusahaan itu juga memproduksi bubuk kopi dengan label yang sama. “Nah label inilah yang harus kita pertahankan”, pinta Syamsuddin Mahmud.
Karena sejak hadirnya pabrik pengolahan kopi basah, nama kopi Gayo dikenal oleh negara-negara konsumen kopi dunia. Salah satu negara pertama sasaran eksport kopi Gayo adalah Jepang. Pihak perusahaan melalui Mitsui Company mengeksport kopi ke negara Sakura tersebut. Di pasaran di negara itu masih kata Syamsuddin, produk Gayo Mountain Coffee menduduki urutan kedua setelah Blue Mountain Coffee dari Jamaika. “Sebenarnya dari segi cita rasa dan aroma, Gayo Mountain Coffee lah yang paling enak”, sebut Syamsuddin.
Syamsuddin mengakui, dia sudah hampir tujuh tahun tidak mengunjungi kota dataran tinggi Gayo itu. Makanya, bila ia merasa rindu dengan Aceh Tengah, ia akan tetap teringat dengan kopi Gayo. Untuk Syamsudin Mahmud yang kini menetap di Jakarta, sealalu memesan kopi Gayo. Karena jasa-jasanya dalam merintis berdirinya Perusahaan Daerah Gernap Mupakat (PDGM), pihak perusahaan tersebut mengirimkan bubuk kopi untuk Pak Syam panggilan akrab Syamsuddin Mahmud dengan jenis bubuk kopi jenis Moca. “Sampai sekarang kan masih ada kopi jenis moca itu dikembangkan di perkebunan milik perusahaan itu”, tanya Syamsuddin.
Untuk itu Syamsuddin berkali-kali berharap agar label Gayo Mountain Coffee yang telah berhasil merebut pasaran tersebut dapat terus dipertahankan. Pak Syam kembali menceritakan pengalamannya dalam lawatan ke negara Swiss. Di negara tersebut para ahli kopi melakukan penelitian terhadap kopi organik setiap tahunnya.
Sisi lain Syamsudin menyatakan kekaguman terhadap potensi besar yang dimiliki oleh Aceh Tengah. Daerah negeri Peteri Bensu itu, tidak hanya dikenal sebagai kawasan lumbung kopi terbesar di Indonesia. Lebih dari itu, Syamsudin menggambarkan, alam Aceh Tengah seperti alamnya Swiss. Lahan yang subur dan potensi yang cukup besar itu sangat menjanjikan untuk kesejahteraan masyarakat setempat.
Menjawab harapan Syamsuddin Mahmud terhadap label Gayo Mountain Coffee, Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM yang ditanyai terpisah menyatakan, Pemda terus melakukan berbagai upaya untuk tetap mempertahankan nama sekaligus kualitas kopi Gayo. Menurut Nasaruddin, masukan-masukan yang disampaikan Syamsudin Mahmud yang memiliki banyak pengalaman baik dalam bidang pemerintahan maupun berbagai bidang lainnya, merupakan masukan berharga untuk kemajuan daerah itu.
Karena kata Nasaruddin, sumbangsih mantan Gubernur Aceh terhadap Aceh Tengah, khususnya dengan berdirinya PDGM sangat besar. Untuk itu meski apapun hambatan yang ada di PDGM, Pemda akan terus berupaya mencari jalan keluarnya. “Apa yang telah dirintis oleh Pak Syam harus terus kita pertahankan”, ujar Nasaruddin.
KBQB Ekspor Biji Kopi Gayo 392,7 Ton
TAKENGON-Koperasi Baitul Qirad Baburrayyan (KBQB) telah melakukan ekspor perdana kopi Gayo dengan total 392.700 kilogram ke berbagai negara di dunia. Dengan total perolehan uang Rp 12.579.651.900 atau setara (USD$ 1.372.107).
Sementara sejak priode Januari -Juni 2007, total ekspor kopi Gayo ke mancanegara mencapai 558.000 kilogram dengan total perolehan Rp 18.462.651.282 atau setara (USD$ 2.061.090) atau naik sekitar 30 persen. Demikian dikatakan Ketua Koperasi KBQ Baburrayyan, Rizwan Husein SE kepada koran ini kemarin.
Lebih lanjut dikatakannya, para petani kopi yag masuk sebagai anggota koperasinya dididik dan dibina daam hal budidaya kopi yang tidak memakai pupuk kimia. Pemupukan dilakukan dengan sistem pupuk kompos. Untuk itu semua produksi kopi milik petani yang tidak mempergunakan pupuk kimia ditampung langsung oleh KBQ Baburrayyan dengan harga yang sesuai dunia.
Untuk memotivasi para petani agar menghasilkan produk kopi organik, selain harga kopi, pihak KBQ Baburrayyan juga memberikan fee untuk masing-masing petani.
Untuk tahun 2006 jumlah premi atau fee yang diberikan kepada petani kata Rizwan Huseien tercatat sebesar Rp 4000.036.000. Sementara tahun 2007 diberikan sebesar Rp 800 juta. Dengan pemberian fee ini tambah Rizwan, para petani tetap bersemangat dan enerjik merawat kebun-kebun kopi mereka.
Saat menyerahkan fee kopi organik untuk sekitar 5000 orang petani, Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM juga berharap agar para petani terus merawat kebun kopinya secara organik. Karena harga pasaran kopi organik di pasaran dunia cukup menjanjikan.
Bentuk perhatian lain masih seperti yag dikatakan Rizwan Huseien, disamping memberikan fee, pihak KBQ Babrrayyan juga telah membantu rehabilitasi kebun petani. Hingga kini luas areal kebun kopi petani yang telah direhabilitasi tercatat seluas 392,3 hektar dengan jumlah bibit yang disalurkan sebanyak 588,412 batang.
Tidak hanya sampai di situ, pihak KBQ Babrrayyan juga memberikan jatah hidup (jadup) kepada petani yang kebunnya direhabilitasi. Jadup yang diberikan sudah tercatat sebanyak 26.005 kilo gram, peralatan kerja berupa parangh dan cangkul sebanyak 600 unit, mesin babat rumput sebanyak 291 unit.
Untuk mewujudkan harapan para pecanbdu kopi dunia terhadap kopi organik, pihak KBQ Baburrayyan akan terus melanjutkan program rehabilitasi kebun kopi milik petani. Karena KBQ Babrrayyan juga kini tela mempersiapkan bibit kopi sebanyak 3.361.588 juta batang.
Masih dirinci Rizwan Huseien, anggota Koperasi Baitul Qirad Baburrayyan saat ini tercatat sebanyak 5.432 orang. Dari jumlah itu dibagi dalam empat kelompok, yakni, Kelompok Swadaya Masyarakat 51 orang, Kelompok Karyawan 16 orang, Kelompok Petani Kopi Aceh Tengah sebanmyak 4.567 orang dan Kelompok petani kopi Bener Meriah 798 orang.(win)
Sementara sejak priode Januari -Juni 2007, total ekspor kopi Gayo ke mancanegara mencapai 558.000 kilogram dengan total perolehan Rp 18.462.651.282 atau setara (USD$ 2.061.090) atau naik sekitar 30 persen. Demikian dikatakan Ketua Koperasi KBQ Baburrayyan, Rizwan Husein SE kepada koran ini kemarin.
Lebih lanjut dikatakannya, para petani kopi yag masuk sebagai anggota koperasinya dididik dan dibina daam hal budidaya kopi yang tidak memakai pupuk kimia. Pemupukan dilakukan dengan sistem pupuk kompos. Untuk itu semua produksi kopi milik petani yang tidak mempergunakan pupuk kimia ditampung langsung oleh KBQ Baburrayyan dengan harga yang sesuai dunia.
Untuk memotivasi para petani agar menghasilkan produk kopi organik, selain harga kopi, pihak KBQ Baburrayyan juga memberikan fee untuk masing-masing petani.
Untuk tahun 2006 jumlah premi atau fee yang diberikan kepada petani kata Rizwan Huseien tercatat sebesar Rp 4000.036.000. Sementara tahun 2007 diberikan sebesar Rp 800 juta. Dengan pemberian fee ini tambah Rizwan, para petani tetap bersemangat dan enerjik merawat kebun-kebun kopi mereka.
Saat menyerahkan fee kopi organik untuk sekitar 5000 orang petani, Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM juga berharap agar para petani terus merawat kebun kopinya secara organik. Karena harga pasaran kopi organik di pasaran dunia cukup menjanjikan.
Bentuk perhatian lain masih seperti yag dikatakan Rizwan Huseien, disamping memberikan fee, pihak KBQ Babrrayyan juga telah membantu rehabilitasi kebun petani. Hingga kini luas areal kebun kopi petani yang telah direhabilitasi tercatat seluas 392,3 hektar dengan jumlah bibit yang disalurkan sebanyak 588,412 batang.
Tidak hanya sampai di situ, pihak KBQ Babrrayyan juga memberikan jatah hidup (jadup) kepada petani yang kebunnya direhabilitasi. Jadup yang diberikan sudah tercatat sebanyak 26.005 kilo gram, peralatan kerja berupa parangh dan cangkul sebanyak 600 unit, mesin babat rumput sebanyak 291 unit.
Untuk mewujudkan harapan para pecanbdu kopi dunia terhadap kopi organik, pihak KBQ Baburrayyan akan terus melanjutkan program rehabilitasi kebun kopi milik petani. Karena KBQ Babrrayyan juga kini tela mempersiapkan bibit kopi sebanyak 3.361.588 juta batang.
Masih dirinci Rizwan Huseien, anggota Koperasi Baitul Qirad Baburrayyan saat ini tercatat sebanyak 5.432 orang. Dari jumlah itu dibagi dalam empat kelompok, yakni, Kelompok Swadaya Masyarakat 51 orang, Kelompok Karyawan 16 orang, Kelompok Petani Kopi Aceh Tengah sebanmyak 4.567 orang dan Kelompok petani kopi Bener Meriah 798 orang.(win)
Kopi Gayo Diekspor ke Singapura
TAKENGON-Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM, Sabtu (17/6) di Kampung Mongal, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, melepas keberangkatan tiga unit truk tronton berisi kopi gayo untuk diekspor ke Singapura melalui PT Indo Cafco Ecom Cofee Group.
Pelepasan kopi eksport tersebut, dihadiri Presiden Direktur, Oliver Techit, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, Drs Said Abubakar MM, unsur Muspida dan sejumlah eksportir lokal.
Selain melepas keberangkatan kopi ekspor, pada kesempatan itu bupati juga meresmikan pengoperasian gedung Yayasan Kasih Sayang di Paya Tumpi I, Panti Asuhan Lenge dan Bebesen yang merupakan bantuan Indo Cafco. sekaligus menyerahkan bingkisan ke ketiga yayasan dari Indo Cafco.
Dalam kesemptan itu, Bupati berharap, agar ekspor ini terus berlanjut dan kepada seluruh eksportir untuk tidak merugikan masyarakat seperti mencampur kuwalitas ekspor dengan kopi hasil sortiran.
Karena, praktek ini dapat merugikan masyarakat juga keuntungannnya tidak halal. “Saya berharap kita semua menjaga kuwalitas kopi Gayo. Bekerjalah secara profesional dengan tidak mencammpur kopi berkuwalitas dengan yang tidak berkuwalitas. Karena kesempatan untuk itu terbuka lebar,” kata bupati.
Dalam kesempatan itu, kepada eksportir, bupati juga berharap agar memberikan bantuan bibit kopi kepada petani dengan jenis kopi yang diminati pasaran eksport.
"Jumlah petani di Aceh Tengah 54 ribu KK lebih , Indo Cafco baru membina 1000 KK petani. Jadi masih banyak petani kopi yang harus dibantu dan dibina ,” pinta bupati.
Bupati berharap agar para eksportir memperhatikan sosial kemasyarakatan sebagai salah satu kemitraan membina hubungan sosial. Kepada Indo Cafco, bupati juga berharap agar tidak melakukan praktek pencampuran kopi yang sudah disortir dengan pesel (kopi hasil buangan/sortiran dengan kualitas rendah).
Menurut bupati sangat penting demi menjaga kualitas kopi gayo yang banyak diminati pasaran luar negeri karena cita rasa dan aromanya yang khas.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Drs Said Abubakar menyebutkan, untuk mengurus SPEK sebagai salah satu persyaratan yang harus dimiliki para eksportir, sudah bisa dilakukan di Aceh Tengah.
Sementara yang menyangkut restribusi, khusus para eksportir tidak perlu lagi mebayar di Pos Restribusi di Bukit Sama milik Dispenda Aceh Tengah dan di Km 35, milik Dispenda Bener Meriah.
Selain Indo Cafco, puluhan eksportir lainnya saat ini bersaing mengeksport kopi gayo ke luar negeri. Kebanyakan kopi yang dieksport adalah jenis kopi organic yang disukai di pasar Amerika, Erofa, Jepang dan kini Singapura. (win)
Pelepasan kopi eksport tersebut, dihadiri Presiden Direktur, Oliver Techit, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan, Drs Said Abubakar MM, unsur Muspida dan sejumlah eksportir lokal.
Selain melepas keberangkatan kopi ekspor, pada kesempatan itu bupati juga meresmikan pengoperasian gedung Yayasan Kasih Sayang di Paya Tumpi I, Panti Asuhan Lenge dan Bebesen yang merupakan bantuan Indo Cafco. sekaligus menyerahkan bingkisan ke ketiga yayasan dari Indo Cafco.
Dalam kesemptan itu, Bupati berharap, agar ekspor ini terus berlanjut dan kepada seluruh eksportir untuk tidak merugikan masyarakat seperti mencampur kuwalitas ekspor dengan kopi hasil sortiran.
Karena, praktek ini dapat merugikan masyarakat juga keuntungannnya tidak halal. “Saya berharap kita semua menjaga kuwalitas kopi Gayo. Bekerjalah secara profesional dengan tidak mencammpur kopi berkuwalitas dengan yang tidak berkuwalitas. Karena kesempatan untuk itu terbuka lebar,” kata bupati.
Dalam kesempatan itu, kepada eksportir, bupati juga berharap agar memberikan bantuan bibit kopi kepada petani dengan jenis kopi yang diminati pasaran eksport.
"Jumlah petani di Aceh Tengah 54 ribu KK lebih , Indo Cafco baru membina 1000 KK petani. Jadi masih banyak petani kopi yang harus dibantu dan dibina ,” pinta bupati.
Bupati berharap agar para eksportir memperhatikan sosial kemasyarakatan sebagai salah satu kemitraan membina hubungan sosial. Kepada Indo Cafco, bupati juga berharap agar tidak melakukan praktek pencampuran kopi yang sudah disortir dengan pesel (kopi hasil buangan/sortiran dengan kualitas rendah).
Menurut bupati sangat penting demi menjaga kualitas kopi gayo yang banyak diminati pasaran luar negeri karena cita rasa dan aromanya yang khas.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Drs Said Abubakar menyebutkan, untuk mengurus SPEK sebagai salah satu persyaratan yang harus dimiliki para eksportir, sudah bisa dilakukan di Aceh Tengah.
Sementara yang menyangkut restribusi, khusus para eksportir tidak perlu lagi mebayar di Pos Restribusi di Bukit Sama milik Dispenda Aceh Tengah dan di Km 35, milik Dispenda Bener Meriah.
Selain Indo Cafco, puluhan eksportir lainnya saat ini bersaing mengeksport kopi gayo ke luar negeri. Kebanyakan kopi yang dieksport adalah jenis kopi organic yang disukai di pasar Amerika, Erofa, Jepang dan kini Singapura. (win)
Dirjen Teliti Sistim Pertanian Organik
TAKENGON-Direktorat Jendral Mutu dan Standarisasi Pengolahan dan Pemasaran Departemen Pertanian Republik Indonesia, akan melakukan penelitian sistim pertanian organic di Aceh Tengah.
DR L I Nyoman Oka Trijaya, MA PPL SC, Dirjen Mutu dan Standarisasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian menyatakan, "hasil penelitian ini nantinya akan menjadi acuan standar mutu Indonesia (SNI)," sebut Dirjen saat bertemu Bupati Aceh Tengah, Ir Nasaruddin MM, Kamis (2/8).
Dalam penelitian untuk kopi organik, Dirjen akan bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan kopi di Jember. “Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk meningkatkan produksi kopi Aceh Tengah dengan system organik."
Selain merlakukan penelitian, tim Dirjen ini akan melakukan peninjauan langsung ke perkebunan kopi milik daerah di Burni Bius dan prosesing kopi di Kampung Weh Nareh Kecamatan Pegasing.
I Nyoman berharap agar Aceh Tengah yang mayoritas penduduknya menggantungkan perekonomian mereka dengan berkebun kopi, perlu melihat Pulper (sistim Penggilingan Kopi) yang dibutuhkan oleh petani setempat).
Selain meneliti sistim perkebunan kopi secara organic, tim ini juga berjanji memberikan bantuan 10 unit mesin pengolahan tebu yang akan dijadikan gula merah pada kelompok tani di Kecamatan Ketol.
“Dalam penelitian ini, kita akan bekerjasama dengan Dinas Perkebunan Aceh Tengah,” ujar I Nyoman Oka Trijaya.
Lebih lanjut dijelaskan Dirjen, khusus untuk sertifikasi lahan-lahan perkebunan , selama ini di Indonesia, untuk berbagai jenis komoditi perkebunan, seperti, Sawit, kopi, kakao, dilakukan oleh pihak luar negeri, yaitu dari SKAL, NASA, JAS ddan Fair Trade.
Sementara itu, ujar I Nyoman Oka, di Indonesia sendiri telah ada Lembaga Standar Mutu Indonesia (SNI). “Untuk itu SNI akan memverifikasi lembaga asing tersebut untuk bekerjasama dengan SNI," ujar I Nyoman Oka.
Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin didampingi Kabag Humas, Drs Windi Darsa, kepada wartawan menyatakan, sangat mendukung rencana penelitian oleh Dirjen dari Deptan RI tersebut.
Dikatakan Nas, sebutan bupati, selama ini di Takengon sudah ada perusahaan asing yang menjalankan sistim pertanian kopi secara organic yang bekerjasam dengan koperasi Baitul Qirad Baburrayan.
Dengan sistim organic ini, kata bupati, mutu kopi asal Gayo tersebut tetap diminati oleh Negara-negara konsumen kopi di Ameriak, Erofa dan Jepang, yang sangat menyukai kopi organic Aceh Tengah.
Kepada tim yang dating ke dataran tinggi gayo, bupati menjelaskan, Aceh Tengah telah memiliki home industri yang mengolah kopi menjadi bubuk kopi. Namun home industri ini masih berskala kecil.
Sementara perusahaan yang ada baru mengeksport kopi kering ke luar negeri. Bukan kopi bubuk dalam kemasan. Menjawab tim pemasaran gula produksi petani tebu di Takengon, menurut bupati masih dipasarkan secara lokal pada pedagang luar daerah.(win)
DR L I Nyoman Oka Trijaya, MA PPL SC, Dirjen Mutu dan Standarisasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian menyatakan, "hasil penelitian ini nantinya akan menjadi acuan standar mutu Indonesia (SNI)," sebut Dirjen saat bertemu Bupati Aceh Tengah, Ir Nasaruddin MM, Kamis (2/8).
Dalam penelitian untuk kopi organik, Dirjen akan bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan kopi di Jember. “Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk meningkatkan produksi kopi Aceh Tengah dengan system organik."
Selain merlakukan penelitian, tim Dirjen ini akan melakukan peninjauan langsung ke perkebunan kopi milik daerah di Burni Bius dan prosesing kopi di Kampung Weh Nareh Kecamatan Pegasing.
I Nyoman berharap agar Aceh Tengah yang mayoritas penduduknya menggantungkan perekonomian mereka dengan berkebun kopi, perlu melihat Pulper (sistim Penggilingan Kopi) yang dibutuhkan oleh petani setempat).
Selain meneliti sistim perkebunan kopi secara organic, tim ini juga berjanji memberikan bantuan 10 unit mesin pengolahan tebu yang akan dijadikan gula merah pada kelompok tani di Kecamatan Ketol.
“Dalam penelitian ini, kita akan bekerjasama dengan Dinas Perkebunan Aceh Tengah,” ujar I Nyoman Oka Trijaya.
Lebih lanjut dijelaskan Dirjen, khusus untuk sertifikasi lahan-lahan perkebunan , selama ini di Indonesia, untuk berbagai jenis komoditi perkebunan, seperti, Sawit, kopi, kakao, dilakukan oleh pihak luar negeri, yaitu dari SKAL, NASA, JAS ddan Fair Trade.
Sementara itu, ujar I Nyoman Oka, di Indonesia sendiri telah ada Lembaga Standar Mutu Indonesia (SNI). “Untuk itu SNI akan memverifikasi lembaga asing tersebut untuk bekerjasama dengan SNI," ujar I Nyoman Oka.
Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin didampingi Kabag Humas, Drs Windi Darsa, kepada wartawan menyatakan, sangat mendukung rencana penelitian oleh Dirjen dari Deptan RI tersebut.
Dikatakan Nas, sebutan bupati, selama ini di Takengon sudah ada perusahaan asing yang menjalankan sistim pertanian kopi secara organic yang bekerjasam dengan koperasi Baitul Qirad Baburrayan.
Dengan sistim organic ini, kata bupati, mutu kopi asal Gayo tersebut tetap diminati oleh Negara-negara konsumen kopi di Ameriak, Erofa dan Jepang, yang sangat menyukai kopi organic Aceh Tengah.
Kepada tim yang dating ke dataran tinggi gayo, bupati menjelaskan, Aceh Tengah telah memiliki home industri yang mengolah kopi menjadi bubuk kopi. Namun home industri ini masih berskala kecil.
Sementara perusahaan yang ada baru mengeksport kopi kering ke luar negeri. Bukan kopi bubuk dalam kemasan. Menjawab tim pemasaran gula produksi petani tebu di Takengon, menurut bupati masih dipasarkan secara lokal pada pedagang luar daerah.(win)
Diserang Jamur Akar dan Penggerek Buah Kopi Gayo Kritis
REDELONG - Jamur akar dan hama penggerek buah menyerang tanaman kopi rakyat di Kabupaten Bener Meriah. Menurut data terkini, lebih 23 juta batang kopi dengan total luas 19.927 hektar diserang kedua jenis penyakit mematikan tersebut. Jika tak segera diantisipasi, kopi Gayo benar-benar kritis dan 90 persen masyarakatnya terancam hilang sumber pendapatan.
Berdasarkan data yang dihimpun Serambi, luas areal kebun kopi di Kabupaten Bener Meriah saat ini mencapai 37.816 hektar. Dari jumlah itu, serangan jamur akar terberat mencapai 861 hektare (1.033.464 batang), serangan sedang 3.481 hektare (4.177.260 batang), dan serangan ringan 8.856 hektare (10.627.236 batang). Menurut berbagai referensi, jamur akar yang dapat menyerang tanaman kopi adalah jamur berwarna putih, cokelat, hitam, dan merah. Akan tetapi jamur akar yang menyerang kopi di Bener Meriah umumnya warna putih.
Sedangkan hama penggerek buah, dihitung dari luas areal tanaman, juga terdiri dari bebarapa tingkatan. Serangan tergolong berat mencapai 4.957 hektare (5.948.508 batang), serangan sedang 1.340 hektare (1.608.468 batang), dan serangan ringan 432 hektare atau 5.192 batang.
Tingkat kerugian petani kopi Bener Meriah akibat serangan hama dalam dua tahun terakhir mencapai Rp 10 miliar dengan perkiraan setiap tahunnya menghasilkan biji kopi hijau (green coffee) sekitar 400 kilogram/hektare dikali harga jual terendah Rp 15.000/kilogram, sementara serangan hama jamur akar terberat mencapai 861,22 hektare. Kerugian itu akan semakin besar jika dihitung pada serangan sedang dan ringan.
Bupati Bener Meriah, Ir Tagore Abubakar, Jumat (3/8) kepada Serambi mengatakan, Pemkab Bener Meriah telah berupaya menanggulangi hal tersebut dengan menganjurkan petani untuk mengantisipasi jamur akar dengan menggunakan biofungisida (Trichoderma SP). Pemberian fungisida ini bertujuan untuk mencegah penularan jamur yang berlangsung cepat, dengan radius mencapai 20 meter.
Tagore yang ahli pertanian itu mengatakan, pengadaan Trichoderma SP saat ini sangat terbatas, mengingat luas lahan kopi di Kabupaten Bener Meriah sangat luas. Untuk itu, kata Tagore, pemkab berusaha mendapatkan bantuan dari Pusat melalui Dirjenbun untuk membuat laboratorium yang dapat memproduksi Tricohderma SP dengan jumlah banyak di Bener Meriah.
Solusi lainnya, lanjut Tagore, Pemkab Bener Meriah juga akan berupaya untuk mengadopsi sistem Proyek Rehabilitasi Perkebunan Tanaman Ekspor (PRPTE), sehingga kemungkinan besar, ribuan hektar kopi di Bener Meriah akan direhabilitasi dengan pola tanam ulang, setelah semua lahan dipastikan steril dari gangguan jamur akar.
Menurt data, luas kebun kopi di Bener Meriah tahun 2007 mencapai 37.816 hektare yang tersebar dalam tujuh kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Pintu Rime Gayo 6.287 hektare, Timang Gajah 7.481,30 hektare, Wih Pesam 2.595 hektare, Bukit 2.634 hektare, Bandar 5.367 hektare, Permata 8.875 hektare, dan Kecamatan Syiah Utama 4.576 hektare.
Warisan konflik
Serangan jamur akar dan hama penggerek buah pada tanaman kopi di Bener Meriah benar-benar membuat petani kopi di kabupaten pemekaran Aceh Tengah tersebut terpukul. Apalagi berdasarkan pendapat sejumlah pakar pertanian yang pernah meneliti penyakit jamur akar, penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan dan menyerang tanaman kopi hingga mati.
Seorang petani di Kecamatan Permata, Rasyidin Aman Muhamad, Jumat (3/7) mengatakan, sejak awal konflik, ribuan hektare kebun kopi di Kabupaten Bener Meriah tak terawat sehingga lahan kopi ditumbuhi gulma dengan jumlah banyak yang menyebabkan tanaman kopi menjadi terganggu. Lama kelamaan batang kopi berjamur diikuti dengan rontoknya daun yang akhirnya menyebabkan kopi menjadi kering-kerontang hingga akhirnnya mati, ujar Aman Muhammad.
Mengenai ancaman jamur akar, menurut Aman Muhammad, sebelumnya tidak pernah mengetahuinya. Petani hanya beranggapan bahwa kopi tersebut terpuruk akibat tidak pernah dirawat.
Akan tetapi, sejak Pemkab Bener Meriah menjelaskan tentang hal tersebut, petani mulai melakukan langkah-langkah yang dianjurkan pemerintah, antara lain dengan menggunakan biofungisida Trichoderma SP. Biofungisida ini ditaburkan pada tanah yang sebelmnya digali sedemikian rupa di sisi batang kopi. Mungkin juga karena lahan kopi ditumbuhi gulma, meransang jamur akar berkembang dengan cepat, begitu perkiraan Aman Muhammad.
Emergency
Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar mengatakan, kopi di daerahnya saat ini emergency (darurat). Hal ini dikaitkan dengan penularan penyakit jamur akar yang cukup cepat meliputi delapan batang kopi di sekitarnya, atau sekitar radius 20 meter dari batang kopi yang telah terserang jamur akar.
Penaburan biofungisida harus tetap digalakkan, karena meskipun dilakukan tanam ulang, tanah bekas tanaman kopi sebelumnya masih terkontaminasi jamur akar sehingga harus disterilkan terlebih dahulu, demikian keterangan Tagore .(c19)
Berdasarkan data yang dihimpun Serambi, luas areal kebun kopi di Kabupaten Bener Meriah saat ini mencapai 37.816 hektar. Dari jumlah itu, serangan jamur akar terberat mencapai 861 hektare (1.033.464 batang), serangan sedang 3.481 hektare (4.177.260 batang), dan serangan ringan 8.856 hektare (10.627.236 batang). Menurut berbagai referensi, jamur akar yang dapat menyerang tanaman kopi adalah jamur berwarna putih, cokelat, hitam, dan merah. Akan tetapi jamur akar yang menyerang kopi di Bener Meriah umumnya warna putih.
Sedangkan hama penggerek buah, dihitung dari luas areal tanaman, juga terdiri dari bebarapa tingkatan. Serangan tergolong berat mencapai 4.957 hektare (5.948.508 batang), serangan sedang 1.340 hektare (1.608.468 batang), dan serangan ringan 432 hektare atau 5.192 batang.
Tingkat kerugian petani kopi Bener Meriah akibat serangan hama dalam dua tahun terakhir mencapai Rp 10 miliar dengan perkiraan setiap tahunnya menghasilkan biji kopi hijau (green coffee) sekitar 400 kilogram/hektare dikali harga jual terendah Rp 15.000/kilogram, sementara serangan hama jamur akar terberat mencapai 861,22 hektare. Kerugian itu akan semakin besar jika dihitung pada serangan sedang dan ringan.
Bupati Bener Meriah, Ir Tagore Abubakar, Jumat (3/8) kepada Serambi mengatakan, Pemkab Bener Meriah telah berupaya menanggulangi hal tersebut dengan menganjurkan petani untuk mengantisipasi jamur akar dengan menggunakan biofungisida (Trichoderma SP). Pemberian fungisida ini bertujuan untuk mencegah penularan jamur yang berlangsung cepat, dengan radius mencapai 20 meter.
Tagore yang ahli pertanian itu mengatakan, pengadaan Trichoderma SP saat ini sangat terbatas, mengingat luas lahan kopi di Kabupaten Bener Meriah sangat luas. Untuk itu, kata Tagore, pemkab berusaha mendapatkan bantuan dari Pusat melalui Dirjenbun untuk membuat laboratorium yang dapat memproduksi Tricohderma SP dengan jumlah banyak di Bener Meriah.
Solusi lainnya, lanjut Tagore, Pemkab Bener Meriah juga akan berupaya untuk mengadopsi sistem Proyek Rehabilitasi Perkebunan Tanaman Ekspor (PRPTE), sehingga kemungkinan besar, ribuan hektar kopi di Bener Meriah akan direhabilitasi dengan pola tanam ulang, setelah semua lahan dipastikan steril dari gangguan jamur akar.
Menurt data, luas kebun kopi di Bener Meriah tahun 2007 mencapai 37.816 hektare yang tersebar dalam tujuh kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Pintu Rime Gayo 6.287 hektare, Timang Gajah 7.481,30 hektare, Wih Pesam 2.595 hektare, Bukit 2.634 hektare, Bandar 5.367 hektare, Permata 8.875 hektare, dan Kecamatan Syiah Utama 4.576 hektare.
Warisan konflik
Serangan jamur akar dan hama penggerek buah pada tanaman kopi di Bener Meriah benar-benar membuat petani kopi di kabupaten pemekaran Aceh Tengah tersebut terpukul. Apalagi berdasarkan pendapat sejumlah pakar pertanian yang pernah meneliti penyakit jamur akar, penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan dan menyerang tanaman kopi hingga mati.
Seorang petani di Kecamatan Permata, Rasyidin Aman Muhamad, Jumat (3/7) mengatakan, sejak awal konflik, ribuan hektare kebun kopi di Kabupaten Bener Meriah tak terawat sehingga lahan kopi ditumbuhi gulma dengan jumlah banyak yang menyebabkan tanaman kopi menjadi terganggu. Lama kelamaan batang kopi berjamur diikuti dengan rontoknya daun yang akhirnya menyebabkan kopi menjadi kering-kerontang hingga akhirnnya mati, ujar Aman Muhammad.
Mengenai ancaman jamur akar, menurut Aman Muhammad, sebelumnya tidak pernah mengetahuinya. Petani hanya beranggapan bahwa kopi tersebut terpuruk akibat tidak pernah dirawat.
Akan tetapi, sejak Pemkab Bener Meriah menjelaskan tentang hal tersebut, petani mulai melakukan langkah-langkah yang dianjurkan pemerintah, antara lain dengan menggunakan biofungisida Trichoderma SP. Biofungisida ini ditaburkan pada tanah yang sebelmnya digali sedemikian rupa di sisi batang kopi. Mungkin juga karena lahan kopi ditumbuhi gulma, meransang jamur akar berkembang dengan cepat, begitu perkiraan Aman Muhammad.
Emergency
Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar mengatakan, kopi di daerahnya saat ini emergency (darurat). Hal ini dikaitkan dengan penularan penyakit jamur akar yang cukup cepat meliputi delapan batang kopi di sekitarnya, atau sekitar radius 20 meter dari batang kopi yang telah terserang jamur akar.
Penaburan biofungisida harus tetap digalakkan, karena meskipun dilakukan tanam ulang, tanah bekas tanaman kopi sebelumnya masih terkontaminasi jamur akar sehingga harus disterilkan terlebih dahulu, demikian keterangan Tagore .(c19)
Subscribe to:
Posts (Atom)

