Tuesday, August 16, 2011

Mahasiswa Perancis Teliti IG Kopi Arabika Gayo


Mahasiswa dari Institut des Regions Chaudes Sup Agro Montpellier Perancis, Wagiono (Mahasiswa asal Indonesia), Clara Durand dan Bigot Jeanne akan melakukan penelitian aspek-aspek Indikasi Geografis (IG) kopi Arabika Gayo. Dalam pertemuan dengan Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG), IOM-SEGA, Jumat (5/8) di kantor Aceh Forum Coffee Takengon. Mereka sedang mendengar penjelasan tentang rancangan kartu pengenal anggota MPKG, database MPKG, sertifikat MPKG dan rancangan SMS gateway. Para peneliti yang sedang menempuh studi S-2 dan S-3 itu berencana tinggal di Dataran Tinggi Gayo sekitar 2 bulan. (***)

sumber: www.lovegayo.com

Prahara Kopi Gayo

Oleh : Andi Tharsia*

Tradisi minum kopi bagi orang Gayo merupakan tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari orang Gayo itu sendiri. Walau kaki berpijak di bumi rantau sekalipun, minum kopi bagi orang Gayo adalah menu yang tak bisa digantikan dengan apapun. Fanatisme terhadap kopi bagaikan merasuk di setiap sendi kehidupan orang Gayo. Bahkan ada ungkapan yang hampir menjadi fatwa ; bukan orang Gayo jika tak suka minum kopi. Secara bertahap, tradisi ini juga menunjukkan perkembangan berupa kembalinya semangat solidaritas sosial antara jema (orang) Gayo yang kini mengalami krisis akibat tuntutan hidup sehingga membuat individu bersikap egois.

Disamping itu, minum kopi ternyata mampu membuat peta politik tanah Gayo berubah melalui kedai-kedai kopi yang sedang tumbuh pesat. Para pakar, anggota dewan, praktisi pendidikan, juga melakukan hal yang sama. Mereka berbicara tentang sesuatu yang dapat memajukan daerah Gayo untuk jangka pendek dan jangka panjang secara formal dan informal, melalui diskusi publik yang diadakan para aktivis mahasiswa maupun yang diadakan oleh kalangan mereka sendiri, dengan bungkusan rokok bertumpuk dan kopi segelas di meja. Semuanya punya niat sama, yakni memajukan dan memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Kopi selalu hadir menemani mereka, bahkan minta porsi lebih. Kopi bagaikan candu yang senantiasa menemani hari-hari mereka yang “katanya” bekerja untuk rakyat. Tidak peduli bahaya hipertensi dan penyakit jantung yang akan diderita kemudian, yang penting : ngopi! Seolah-olah dengan minum kopi, daya nalar bisa lebih cepat tanggap, lebih arif bijaksana dalam memutuskan suatu perkara, walau temuan ilmiah belum melaporkan bahwa minum kopi bisa membuat otak lebih canggih dari sebelumnya.

Ekonomi kapitalis-liberalis

Ironisnya, kegemaran kita dalam mengonsumsi kopi tak sebanding dengan hasil yang didapat oleh petani kopi di tanah Gayo. Keringat yang mereka kucurkan saat memanen kopi, dibayar murah oleh tengkulak kopi dan biji kopi terbaik akan diekspor ke Jepang, Eropa, Amerika dan beberapa permintaan dari negara luar. Di saat yang sama, para petani kopi juga harus menyekolahkan anak-anaknya dalam keterbatasan ekonomi agar anak-anak mereka menjadi orang berpendidikan dan mampu hidup lebih baik dari orang tuanya.

Ekonomi kapitalis-liberalis adalah sistem yang bertanggung-jawab dengan fenomena ini. Efek dari sistem ini bagi petani kopi ibarat tertimpa tangga, kebun kopi yang dipanen tak dapat dinikmati, ditambah lagi dengan persentase keuntungan yang lebih kecil yang diberikan oleh tengkulak. Hal semacam ini cukup jelas untuk mendeskripsikan tentang pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah di Gayo yang belum berhasil memberikan data statistik yang menanjak tentang kesejahteraan petani kopi. Kemakmuran dirasakan oleh segelintir orang dan perputaran uang hanya berada pada orang tertentu saja. Hitamnya kopi seakan sama kelamnya dengan masa depan kesejahteraan petani kopi Gayo itu sendiri. Kemakmuran masih jauh dari harapan dan himpitan ekonomi masih saja terus terjadi pada petani kopi.

Saya melihat masih terjadinya penetapan harga kopi yang tidak stabil dan adanya indikasi “pembagian jatah” antara pihak pengusaha dengan eksekutif yang mengakibatkan ketidakadilan bagi petani sebagai pihak tenaga produksi. Pihak yang berwenang mengurusi masalah ini, idealnya memiliki kepekaan dan menghentikan praktik KKN, serta lebih memprioritaskan kesejahteraan petani kopi Gayo plus fokus pada kualitas kopi Gayo di kancah dunia.

Kongkalikong

Ada 3 (tiga) solusi yang perlu menjadi perhatian pemerintah dalam memajukan kopi sebagai komoditi terbaik di tanah Gayo. Pertama, pemerintah perlu menetapkan regulasi harga secara ketat antara pengusaha dan petani. Antara petani dan pengusaha memiliki kesepakatan yang adil, dan pengusaha tidak boleh menetapkan omzet tinggi tanpa memikirkan kesejahteraan petani. Kedua, pemerintah kabupaten perlu segera tanggap untuk memutuskan rantai penghubung “kongkalikong” apapun, yang terbukti menimbulkan ketidakadilan bagi petani. Ketiga, perlunya pendampingan hukum bagi petani yang dilakukan lembaga hukum berwenang (LBH, LSM pro-kesejahteraan petani) agar petani tidak mudah ditipu dan diintimidasi oleh pihak tertentu apabila mereka menuntut keadilan atas hidup keluarganya.

Saya berharap kopi Gayo menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri, bebas dari malpraktik harga dan kekuasaan dan kepentingan antara penguasa dengan pengusaha. Sesama penikmat kopi, kita perlu menyadari bahwa derita petani kopi Gayo ternyata lebih pahit dari kenikmatan kopi Gayo itu sendiri, yang biasa kita nikmati sehari-hari. Kita harus ambil bagian dalam mengenalkan kopi Gayo pada dunia melalui potensi yang kita miliki saat ini, apapun itu. Wallahu’alam bis shawab.

*Mahasiswa Gayo dan aktif di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) wilayah Aceh.

(Sumber: www.lovegayo.com)

Kopi Arabika Gayo “one of the best coffee”

Denpasar | Lintas Gayo :Kopi Arabika Gayo adalah satu dari sekian banyak kopi Arabika terbaik di dunia, one of the best coffee. Taste terenak, lebih-lebih kopi luwaknya menghasilkan karakter spesifik berupa aroma buah-buahan. Demikian disampaikan Wirawan Tjahjadi, owner Kopi Bali House dan PT Bhineka, Rabu (27/7) di pabriknya Jalan Pulau Moyo Denpasar.

Generasi ke-3 dari PT Bhinneka itu mengakui bahwa kopi Gayo sangat hebat. Masalahnya, hanya banyak yang belum pernah mencoba.

Kepada tim Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) yang dipimpin Project Manajer IOM-SEGA Konrad Clos, dia nyatakan bahwa kopi Arabika Gayo diblending dengan kopi Arabika lainnya sehingga rasanya lebih “nendang.”

Pabrik PT Bhineka itu menghasilkan bubuk kopi Robusta sebanyak 60 ton perbulan, sedangkan kopi Arabika hanya 6 ton yang diperuntukkan bagi cafe yang ada di Bali.

“Dari 6 ton itu, kopi arabika yang berasal dari Sumatera hanya 2 ton,” imbuh lelaki yang rambutnya dikuncir itu.

Sementara itu, Ketua MPKG, Drs. Mustafa Ali yang tergabung dalam Tim IOM-SEGA itu berjanji akan mengirim sampel kopi ke pabrik PT Bhineka untuk persiapan kerjasama. “Tolong dicantumkan nama kopi arabika Gayo dalam packing kopi produk Bhineka,” pinta mantan anggota DPRK Aceh Tengah. (***)

(source: lovegayo.com)

Petani Kopi Gayo Bener Meriah Terima Premium Fee 1 Milyar

Redelong | Lintas Gayo : Bonus penjualan kopi yang dijual ke luar negeri atau Premium Fee mulai dinikmati petani kopi Gayo dibawah naungan Koperasi Tunas Indah dengan jumlah anggota sebanyak 3.830.

Seperti dikatakan Ketua Koperasi Tunas Indah Muhsin AS, kepada Lintas Gayo, Sabtu (16/7), untuk periode tahun 2011 masyarakat petani kopi yang menjadi anggota koperasi menerima pembagian bonus penjualan kopi sesuai dengan Flo Fair Trade atau sering diartikan organisasi perdagangan yang adil.

“Anggota kami berada di 37 desa dalam tujuh kecamatan yang berada di Kabupaten Bener Meriah, diantaranya Kecamatan Permata, Bener Kelipah, Bandar, Bukit, Weh Pesam, Pintu Rime Gayo, bahkan ada juga dari Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah,” rinci Muhsin AS.

Disebutkan, mereka membagikan bonus penjualan kopi kepada para petani disaat yang tepat karena menjelang bulan Ramadhan.”Jumlahnya sekira Rp. 1 Milyar. Bonus tersebut dibagikan kepada 3.830 petani kopi berupa beras dan uang untuk beli daging menjelang bulan puasa ,” katanya.

Sementara sekretaris Koperasi Tunas Indah, M. Bakat menambahkan selama ini mereka mengirimkan kopi tersebut kepada PT. Arvis Sanada dan CV. Ari Data Mandiri yang eksportir kopi ke luar Negeri.” Hasil dari eksport kopi yang mereka jual kepada pembeli di luar Negeri, terdapat bonus penjualan atau Premium Fee sesuai dengan peraturan perdagangan Internasional ,” ungkap M. Bakat.

Pihaknya juga meminta bantuan agar Bupati Kabupaten Bener Meriah tidak lupa menuntut eksportir PT. GMGSC yang telah membawa lari Premium Fee senilai 20 Milyar milik para petani kopi yang belum dibayarkan selama periode tahun 2004 hingga 2009.

Sementara itu, ditempat terpisah Bupati Kabupaten Bener Meriah Ir. H. Tagore AB menyebutkan, masalah pembagian bonus penjualan tersebut sepengetahuannya dan dia juga memonitornya.”Mengenai hak petani yang dibawa lari oleh PT. GMGSC senilai Rp.20 Milyar sudah dilaporkan kepada Gubernur Aceh dan mereka telah membentuk tim. Namun hingga saat ini belum juga ada keputusan,” kata Tagore.

Sementara itu salah seorang petani kopi, Paiman, warga Kampung Weh Porak, Kecamatan Pintu Rime Gayo kepada Lintas Gayo mengatakan, bahwa mereka sangat bergembira mendapatkan bonus penjualan kopi tersebut. Karena menurutnya dengan adanya bonus itu, setidak-tidaknya biaya membeli daging dan beras di awal bulan Ramadhan bisa tertutupi.(Aman Buge)

Sumber: www.lovegayo.com

Indikasi Geografis Kopi Gayo

Oleh Marah Halim*


“What’s in a name” kata Shakespeare mutlak salah dalam bisnis dunia saat ini. Saat ini, nama adalah merek, merek adalah paten, paten adalah aset immateril, aset adalah uang….uang adalah pembangunan dan kesejahteraan. Kopi Gayo kini dipegang lisensinya oleh perusahaan Belanda. Bukan berarti penulis menyalahkan Shakespeare, tetapi kita memang telah salah. “Tingkis ulak ku bide sesat ulak ku dene”.

Untuk mendukung perubahan nama Bener Meriah dan Aceh Tengah sebagaimana yang penulis angkat dalam tulisan beberapa hari lalu, maka salah satu dasar pemikiran yang bisa dijadikan argumen yang kuat adalah bahwa secara hukum kopi Gayo telah mendapat hal paten, yaitu Indikasi Geografis, hak paten terhadap satu produk yang berasal dari wilayah tertentu. Kopi Gayo telah mendapatkan IG pada tahun 2010 yang lalu.

Seharusnya IG kopi Gayo sama dengan nama daerah yang menjadi asal-usulnya, sehingga semua orang langsung tau bahwa yang namanya kopi Gayo berasal dari dataran tinggi Gayo (Datinggo), dimana itu? Seharusnya jawabannya adalah “di Gayo Linge, Gayo Lut”, dan Gayo Lues”. Kalau sekarang terpaksa kita jawab di kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Jadi hanya Gayo Lues yang benar-benar merepresentasikan IG kopi Gayo, karena itulah satu-satunya kabupaten di Datinggo yang bernama Gayo, inilah kabupaten yang absolutely Gayo.

Sebagai perbandingan, dua varietas kopi yang Indikasi Geografis-nya sesuai dengan nama daerahnya adalah Kopi Kintamani di Bali dan Kopi Toraja di Tanah Toraja, itu nama daerahnya dan itu pula nama di IG-nya. Nah, kita “tampil beda”, nama daerahnya lain dan nama patennya lain, tidak konsisten.

Kopi bukan produk murahan, patokan harganya adalah Dollar Amerika, anehnya kita sudah merasa puas dengan harga kopi yang 30-40 ribu/bambu, sementara pemegang lisensinya menjual dengan harga selangit. Inilah yang namanya penjajahan ekonomi, siapa yang memegang nama dialah yang mengatur dari hulu sampai hilir. Jadi, masihkah sebuah nama belum berharga?

Bukan hanya kita yang resah dengan nama kopi Gayo yang tidak sesuai dengan nama daerahnya dan nama perusahaan yang memegang lisensi penjualan kopi Gayo secara internasional; teman-teman pesisir Aceh juga meresahkan ini, berikut penulis kutipkan salah satu tanggapan mereka atas status penulis di FB, nama FB beliau adalah Adie Black Eagle:

“Teringat cerita senior saya sehingga Saat saya datang langsung ke Gerai Kopi Starbuck…saya minta baca kemasan kopinya… Sehingga begitu bangganya saya menjadi orang Indonesia, dan orang Aceh saat membaca tulisan yg lebih kurang berbunyi ” Kopi dari dataran tinggi Gayo” namun sedikit miris ketika membaca tulisan kecilnya : Licenced by Holland Coffee…wuiiiih… Jadi sedih, tau-taunya kopi gayo belum “merdeka” seperti Republik ini. Tadinya saya pikir itu lisensinya oleh produsen kopi Indonesia atau Tanah Gayo sendiri… Bahkan kadang jadi teringat lawakan orang Medan… “Kopi Takengon, tapi Sidikalang punya nama…”.

”Sementara itu, Menyimak apa yang anda tulis Bang Halim, saya memahami kegelisahan anda sebagai putra tanah Gayo sebagaimana hal yg sama pada saya sebagai Putra Aceh, hanya saja mungkin ditemukan beberapa kendala bila merubah identitas nama Kota Takengon dan Bener Meriah, Nah, kenapa tidak dilakukan sosialiasi dan atau branding daerah seperti yg dilakukan oleh Starbuck dengan menambahkan kata2 disetiap promosi daerah, contoh misalnya : baleho ucapan selamat datang diperbatasan di tulis ” selamat datang di dataran tinggi Gayo- Takengon, Aceh Tengah” .

”Menurut hemat saya, penambahan kata “Dataran Tinggi Gayo” seperti terkemas di produk2 kopi international tersebut akan mewakili pencitraan daerah mulai bener Meriah, takengon, linge dll. Namun, bila tak sulit dirubah, ya dirubah saja seperti yg diinginkan putra-putri daerah sesuai saran para tetua…tentunya, apa saya sampaikan adalah sebuah ide dan saran yg mungkin baik bagi yg menilai baik dan menjadi buruk bila tak ada yg sependapat… Silahkan disikapinya dengan baik bang, seiring cinta saya sbg putra bangsa…:).

Begitulah keresahan orang tentang kita orang Gayo, kalau kemudian kita sendiri tidak resah tentu ada yang salah dengan pola pikir kita.

Ama/ine/sudere bewene, seorang thalib (pembelajar) hanya bisa melempar ide, karena itulah amal shalihnya. Untuk merubah nasib Gayo semuanya berangkat dari ide, ide wujudkan jadi tindakan nyata, tindakan nyata pertahankan jadi keberlanjutan (kebiasaan), sebuah keberlanjutan akan menjadi karakter, dan karakter yang jelaslah yang akan merubah nasib Gayo.

Semua ini adalah POLA PIKIR, pola pikir hanya ada dua, fixed mindset (pola pikir yang jumud) dan developed mindset (pola pikir berkembang). Kita orang Gayo pilih yang mana? Yang abadi di dunia ini hanya pilihan, persaingan, masalah. ”Ya yugayyiru ma bi qawmin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”.

*Pengamat Pemerintahan Gayo, tinggal di Banda Aceh

(sumber: lovegayo.com)

Thursday, May 19, 2011

Kopi Arabika Gayo Juara di Bali

TAKENGON - Setelah meraih juara III pada Kontes Kopi Specialty tahun 2008, Kopi Arabika Gayo kini berhasil meraih nilai tertinggi pada even Lelang Kopi special Indonesia (Indonesian Specialty Coffee Auction) yang diselenggarakan di Auditorium PT Putra Bhineka Perkasa, Kota Denpasar, Provinsi Bali, yang berlansung 9-10 Oktober 2010.

Lelang kopi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) itu diikuti peserta dari seluruh daerah produsen kopi Arabika di Indonesia. Sejumlah pembeli kopi dari Amerika Serikat, Taiwan, Australia, Singapura, dan Mesir ikut andil dalam lelang kopi spesial pertama di Indonesia tersebut.

Selain itu, Kopi Arabika Gayo juga menyabet juara pertama pada Kontes Kopi Arabika se-Indonesia. Program Associate UNDP Aceh Partership Economic Development (APED) Project, T Budi Hermawan, Kamis (21/10) mengatakan, dalam ajang lelang kopi ini melibatkan 59 buah sample (contoh) kopi yang berasal berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia. Provinsi Aceh mengirim tujuh sample kopi, Sumatera Utara (11), Jambi (1), Bengkulu (5), Jawa (11), Bali (3), Flores (6), Papua (2) dan Kopi Luwak 13 sample.

Setelah dilakukan cupping (pengujian citra rasa) mengikuti standar SCAA (Specialty Coffee Association of America) dan CQI (Coffee Quality Institute) yang dilakukan 22 orang Q-Graders (ahli citarasa kopi bersertifikat) dari Indonesia dan internasional, hanya 22 lot (paket) kopi yang dinyatakan lolos untuk mengikuti lelang. Setiap lot memiliki berat 600 kilogram untuk kopi Arabika dan 10-15 kg untuk Kopi Luwak.

Pada saat lelang berlangsung, kata T Budi Hermawan, para pembeli dan peminat kopi juga diberi kesempatan melakukan cupping yang kemudian dilanjutkan agenda lelang dengan menggunakan sistem English Open Cry, lelang dibuka dengan harga yang ditetapkan berdasarkan harga pasar kopi di New York Amerika Serikat yang berlaku pada hari Jumat 8 Oktober 2010 sebesar 4,1 USD per kg.

Akhir dari lelang ini, katanya, satu lot Kopi Arabika Gayo asal Kecamatan Atu Lintang Aceh Tengah yang dikirim oleh Forum Kopi Aceh (FKA) dan UNDP APED menempati urutan pertama dengan perolehan cupping score sebesar 85.34 dan roaster (perusahaan pengolah kopi) asal Amerika Serikat, TONY’S Coffee and Teas ditetapkan sebagai pembeli (buyer) untuk Arabika Gayo asal Kecamatan Atu Lintang Kabupaten Aceh Tengah dengan penawaran tertinggi.

T Budi Hermawan menyatakan, perolehan cupping score dan penawaran tertinggi untuk kopi Arabika asal dataran tinggi Gayo ini merupakan bukti bahwa kopi Arabika Gayo terbaik di Indonesia dan saat ini sudah dilirik oleh sejumlah pembeli kopi Internasional, dan keberhasilan itu merupakan pencapaian terbesar bagi petani kopi Arabika di Provinsi Aceh dan petani kopi di Dataran Tinggi Gayo.

Bersamaan dengan lelang Kopi Arabika Specialty itu, sebut Budi, di Grand Hyat Nusa Dua Bali juga digelar Kontes Kopi Spesialty Indonesia yang digelar oleh Pusat Penelitian Kopi Indonesia dan Kakao dan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Kopi Arabika Gayo meraih juara pertama dengan menyingkirkan sejumlah kopi lainnya, sementara posisi kedua pada kontes kopi Arabika itu direbut Kopi Arabika asal Pulau Flores. Kontes Kopi Arabika berlangsung 3-6 Oktober 2010.

Ketua Forum Kopi Aceh, Mustafa Ali mengatakan, kemenangan kali ini Forum Kopi Aceh dan UNDP APED mengirim kopi Arabika yang berasal dari dataran tinggi Gayo mengikuti kontes kopi specialty Indonesia. Pertama pada tahun 2008, kopi Gayo memenangkan juara III, dan sekarang pada tahun 2010 kopi Gayo berhasil menduduki juara pertama pada kontes kopi specialty itu. “Kemenangan kopi Gayo ini merupakan kemenangan bagi seluruh masyarakat kopi di Dataran Tinggi Gayo, dan diharapkan semua pihak dapat mempertahankan kemenangan ini untuk kontes kopi specialty di tahun berikutnya,” ujar Mustafa Ali.(min/serambinews/kopigayo.blogspot.com)