Thursday, July 06, 2006

Suku Gayo, Kopi & Bener Meriah

Cap resmi Kerajaan Linge (1287 H/1869 M)

Suku Gayo memiliki kerajaan yang berdiri sendiri dan dinamakan Kerajaan Linge. Dimana Kerajaan Linge ini dibangun pada tahun 416 H / 1025 M di Buntul Linge dengan raja pertamanya, Adi Genali atau yang dinamakan juga dengan Kik Betul, yang mempunyai empat orang putra yaitu Sibayak Linge, Empu Beru, Merah Johan, Merah Linge. Dimana Raja Linge I mewariskan sebilah pedang dan cincin permata kepada keturunannya. Dimana cincin permata itu berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah (tahun 1012 M -1038 M). Ketika Adi Genali membangun Kerajaan Linge bersama seorang perdana menteri Syeikh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule.

Suku Gayo yang memiliki sejarah kerajaan Linge-nya ini bukan bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh. suku Gayo adalah suku minoritas yang berbeda kebudayaannya dengan budaya suku Aceh. Dimana menurut para Ahli Antropologi, budaya suku Gayo ini dikelompokkan kedalam budaya suku Batak. Karena terbukti dalam kenyataannya bahasa dan adat istiadat suku Gayo, seperti kesenian Didong dengan bahasa Gayo, Pepongoten, Sebuku, melengkan, munenes, saer berbeda dengan seni budaya yang ditampilkan oleh suku Aceh

Dan memang pada tahun-tahun terakhir ini suku Gayo lut (Aceh Tengah dan Bener Meriah) Gayo Lues, yang bergabung dengan Suku Alas yang berada Aceh Tenggara ditambah dengan suku Singkil dari wilayah Singkil Aceh Selatan telah bersatu untuk membangun wilayahnya sendiri terpisah dari Aceh. Dimana orang-orang dari suku Gayo, Alas dan Singkil ini merasa bukan orang Aceh dan siap membentuk wilayahnya sendiri yang dinamakan wilayah Leuser Antara. Leuser adalah nama gunung yang tingginya 3149 meter yang terletak di antara Aceh Tenggara dan Aceh Selatan.

Sejarah Kabupaten Bener Meriah

Kedatangan kaum kolonial Belanda sekitar tahun 1904, tidak terlepas dari potensi perkebunan tanah Gayo yang sangat cocok untuk budidaya kopi Arabika, tembakau dan damar. Pada masa ini wilayah Aceh Tengah dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai ibukotanya.Dalam masa kolonial Belanda tersebut di kota Takengon didirikan sebuah perusahaan pengolahan kopi dan damar. Sejak saat itu pula kota Takengon mulai berkembang menjadi sebuah pusat pemasaran hasil bumi dataran tinggi Gayo, khususnya sayuran dan kopi.

Sebutan Onder Afdeeling Takengon di era kolonial Belanda, berubah menjadi Gun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Gun dipimpin oleh Gunco. Setelah kemerdekaan RI diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, sebutan tersebut berganti menjadi wilayah yang kemudian berubah lagi menjadi kabupaten. Aceh Tengah berdiri tanggal 14 April 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 Wilayahnya meliputi tiga kewedanaan yaitu Kewedanaan Takengon, Gayo Lues dan Tanah Alas.

Sulitnya transportasi dan didukung aspirasi masyarakat, akhirnya pada tahun 1974 Kabupaten Aceh Tengah dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara melalui Undang - undang No. 4 Tahun 1974.
Kemudian, pada 7 Januari 2004, Kabupaten Aceh Tengah kembali dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan Undang -undang No. 41 Tahun 2003. Kabupaten Aceh Tengah tetap beribukota di Takengon, sementara Kabupaten Bener Meriah beribukota Simpang Tiga Redelong.Nama daerah : Kabupaten Bener Meriah Luas wilayah : 1.454,09 km² Ibukota : Simpang Tiga Redelong Jumlah penduduk : - Jumlah kecamatan : 7 Disahkan : 18 Desember 2003 Kabupaten Bener Meriah adalah kabupaten terbaru NAD sejak awal 2004, sebagai hasil pemecahan dari Kabupaten Aceh Tengah. Kabupaten Bener Meriah merangkumi bagian utara Kabupaten Aceh Tengah yang bersempadan dengan Kabupaten Bireun, Aceh Utara dan Aceh Tengah.

2 comments:

Masrul Purba, S.Pd said...

Suku Gayo saat ini setahu penanggap mendominasi sejumlah kabupaten besar di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, dan sebagian daerah Aceh Timur.

Ditinjau dari adat istiadat, kebiasaan hidup sehari-hari, dan juga bahasanya tampaknya memiliki hubungan erat dengan suku Batak, terutama dengan suku Alas, Pakpak, Karo, dan Simalungun. Mengapa penanggap berani menyatakan demikian, karena dari banyak hal yang diuraikan di atas terdapat banyak kesamaan, terutama di bidang bahasa; sungguh banyak kosa kata bahasa Batak memiliki kemiripan dalam bentuk maupun makna, jika orang Gayo tidak mempercayainya, silakan diteliti dan dibandingkan. Lebih ironisnya lagi, di kalangan masyarakat Batak ada yang menyatakan kalau orang Gayo disebut sebagai keturunan Batak ke-20 (berarti keturunan Batak yang berjumlah 20 orang). Hal ini kian diperkuat dengan ditemukan sejumnlah orang Gayo yang menyandang marga seperti marga Munte, Linge, Tebe, dan lain-lain, pengguna marga ini banyak dijumpai di daerah Bebesen, Aceh Tengah.

Akhir kalam, penanggap berharap kiranya tulisan ini dapat disikapi oleh semua elemen masyarakat Gayo, yang ingin merekonstruksi sejarah urang Gayo secara otentik.

Medan, 12 Juli 2008

Masrul Purba, S.Pd

arif marwanto said...

varietas kopi yang mana yang dapat mengobati penyakit hati?
dan kopi sering terserang hama apa?