Friday, May 18, 2007

Kopi Organik Gayo: Aromanya Memikat Dunia

Udara dingin menyambut kedatangan kami saat mendarat di bandara Rembele Bener Meriah-Aceh setelah menempuh penerbangan selama 1 jam dari Medan. Sejauh mata memandang, terlihat perkebunan kopi yang terhampar di pegunungan di Tanah Gayo ini. Kopi menjadi sumber pendapatan utama masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah. Perputaran uang dari kopi di kawasan ini diperkirakan mencapai lebih dari satu trilyun rupiah setahunnya.

Salah satu pesona tanah Gayo ini adalah Danau Laut Tawar yang terletak di kota Takengon, ibu kota propinsi Aceh Tengah, yang juga merupakan sentra kegiatan ekonomi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Untuk mencapai kota ini, terdapat dua alternatif cara, yaitu melalui jalan darat selama 8-10 jam dan melalui udara selama 1 jam, keduanya ditempuh dari Banda Aceh atau Medan.

Selain keindahan alamnya dan keramahan masyarakat Gayo yang berbaur dengan masyarakat keturunan Jawa dan Aceh, aroma kopi arabika Gayo juga menarik investor nasional dan internasional untuk berusaha ke sana. Sebut saja PT. Indo CafCo (Ecom Group-Perancis), PT. Sarimakmur Tunggal Mandiri, PT. Menakom, Forestrade (AS), yang berkantor di Medan dan Padang. Perusahaan-perusahaan ini merupakan pemasok kopi ke pasar dunia, seperti Starbucks, Utz Kapeh dan pasar fair trade.

Lokasinya yang berada di ketinggian di atas 1.100 meter dpl, menjadikan tempat ini cocok untuk perkebunan kopi arabika. Pantas saja, bila kopi Gayo masuk dalam peta kopi arabika dunia, termasuk kopi organik.

Dibudidayakan Secara Tradisional

Perkebunan kopi organik milik rakyat berada di lereng-lereng bukit yang terjal, ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lamtoro, jeruk, dan alpukat sebagai tanaman peneduh dan pencegah erosi. Usia rata-rata tanaman kopi berkisar 10 tahun, bahkan banyak juga yang berusia lebih dari 30 tahun. Tanaman kopi arabika didominasi oleh jenis Ateng, Timtim dan Jember. “Lamtoro baik untuk tanaman kopi. Akarnya membantu kesuburan tanah dan mencegah erosi. Kalau daunnya baik bagi peneduh tanaman kopi,” ucap Suwari, petani kopi di Bukit Mulie Timang Gajah Bener Meriah. “Selain sebagai peneduh, jeruk dan alpukat bisa buat celengan di musim paceklik kopi, dan dijual di pasar lokal,” tambahnya.

Bulan Juni hingga Agustus merupakan musim paceklik kopi, dan produksi kopi menurun drastis. “Di musim paceklik, saya bisa memperoleh 3 kaleng gabah (parchment) kopi dalam 15 hari. Tapi kalau pas panen raya, bisa memperoleh 40 kaleng gabah dalam 15 hari,” tambah Julmansyah yang memiliki sekitar 2000 pohon kopi diluas lahan 1 ha miliknya. Satu kaleng gabah kopi setara dengan 10 bambu atau 11 kg gabah. Umumnya petani menggunakan satu bambo (1 bambu=1,1-1,2kg) atau kaleng.

Panen raya biasa terjadi pada bulan September hingga Desember setiap tahunnya. Bulan Januari hingga Mei, petani tetap panen meskipun jumlahnya tidak sebesar panen raya. Harga kopi di tingkat petani mengikuti harga dunia yang dipatok dengan dolar. “Saat krisis tahun 1997- 1998, petani di sini makmur - makmur. Saat itu, tiap petani mampu membelikan kereta (motor-red) buat anak-anaknya,” menurut Heri yang merupakan rekan Julmansyah dan Suwari menjelaskan. Saat ini harga kopi berkisar Rp.9.000-10.500/bambo gabah kopi di tingkat petani. Sementara biji kopi di tingkat pengumpul mencapai harga Rp. 18.000- 19,500/kg dengan kadar air 18%.

Budidaya kopi rakyat dilakukan turun temurun. Mengikuti model perkebunan Belanda, jarak tanam antara tanaman kopi sekitar 2-3 meter, di bawah naungan lamtoro yang berjarak antara 10 meter. Semakin berlereng, jarak tanaman lamtoro semakin rapat untuk mencegah erosi. Dan setiap pangkal batang kopi terdapat lubang yang berjarak sekitar 0,5 meter (petani setempat menyebutnya “lubang angin”-red) untuk mengkomposkan daun-daun, gulma dan kulit kopi yang telah busuk, bahkan kotoran ternak. “Lubang angin dibuat agar kompos yang kita buat 'gak lari terbawa air, tetapi tertahan di lubang angin dekat tanaman kopi yang berada lebih miring di bawahnya,” jelas Suwari .

“Kalau ada jamur batang atau penggerek batang, biasanya kita pangkas batang kopi yang terkena penyakit. Payahnya kalau tanaman kopi terkena penyakit jamur akar, petani 'gak ada pilihan selain mencabutnya dan mengganti dengan tanaman baru,” kata Sumiran, petani sekaligus koordinator ICS (Internal Control System) PT. Indo
CafCo-Bonkawan di Bukit Mulie, Timang Gajah kabupaten Bener Meriah.

Banyak sekali hewan- hewan yang dapat ditemukan di kebun-kebun petani. “Selain burung, banyak ditemukan musang, tupai, labalaba, kadal, ular, dan monyet. Babi biasanya muncul menjelang magrib dan malam hari. Babi senang menggali tanah di bawah tanaman kopi, kadang membuat tanah longsor. Tetapi beberapa petani juga senang kebunnya kedatangan babi, karena membantu kesuburan tanah,” tambah Sumiran. “Buah yang berlubang yang didalamnya ada kutu hitam membuat biji kopi rusak dan susut beratnya. Penyakit ini yang susah diatasi petani,” kata Sumiran menjelaskan serangan penyakit Penggerek Buah Kopi (PBKo) yang disebabkan oleh kumbang (Hypothenemus hampei).

Dari hasil pengamatan di lapangan, ada beberapa petani yang sudah mulai menggunakan perangkap (trap) berwarna merah yang dilumuri lem (mengandung hormon seksual serangga-feromon) sehingga kumbang tertarik dan terperangkap ke alat tersebut. “Petani membiarkan buah yang berlubang. Buah tersebut akan tetap memerah dan dikutip (dipetik-red) seperti buah kopi yang masak. Buah yang berlubang dipisahkan saat pencucian gabah setelah digiling. Biasanya, buah yang berlubang hitam itu akan mengambang bila dicuci, lalu dipisahkan,” jelas M. Salam, petani di Desa Mude Benara Timang Gajah.

Saat panen raya, dari pagi hingga sore hari jemuran biji kopi memenuhi jalan-jalan desa dan halaman rumah atau mesjid. Petani sudah meninggalkan menjemur biji kopi tanpa dialasi. Mereka menggunakan terpal untuk penjemuran. Sementara di kebun-kebun kopi nampak kesibukan para pemetik kopi dan pemilik kebun memetik dan mengangkut buah kopi dari lahan. “Sulit mencari pekerja saat panen raya kopi, semua orang sibuk dengan kebunnya masingmasing,” kata M. Salam. Masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah minimal memiliki 0,5 ha kebun kopi, sehingga pada siang hari saat panen raya, sulit menjumpai petani di rumah.

Dari Kebun ke Segelas Kopi

Buah-buah kopi yang masak dipetik di lahan. Kadang di lereng bukit yang curam, pemetik kopi dengan lincah berpindah dari satu batang kopi ke batang lainnya. Lahan-lahan kopi organik umumnya berada di perbukitan terjal, berjarak sekitar 1-2 km dari perkampungan. Banyak kebunkebun tersebut tidak dapat dilewati oleh motor, sehingga petani harus memanggul buah kopi hingga ke jalan raya terdekat, kemudian baru di angkut dengan motor menuju rumah.

Untuk memisahkan kulit kopi dari bijinya, kopi digiling terlebih dahulu, Hampir setiap rumah di tanah Gayo ini memiliki penggilingan kopi baik yang digerakan oleh dinamo atau tenaga manusia. Setelah terpisah dari kulitnya, biji kopi masih banyak mengandung lendir, maka biji-biji kopi tersebut harus dicuci dengan air berulang kali hingga lendirnya hilang. Kemudian biji kopi tersebut di jemur selama 1-2 hari dalam cuaca panas terik hingga mencapai kadar air 18%-20% (gabah). Setelah kering, barulah biji-biji kopi tersebut disangrai (digoreng tanpa minyak) lalu ditumbuk atau digiling sampai halus hingga menjadi bubuk. Bubuk kopi inilah yang siap untuk diseduh dan dinikmati.

Kadar kafein kopi robusta dua kali lipat lebih tinggi disbanding kopi arabika, namun orang Indonesia lebih menyukai kopi robusta ketimbang kopi arabika. Kata penikmat kopi, rasanya lebih pas. Oleh sebab itu maka kopi arabika yang dibuat untuk konsumsi rumah tangga di Tanah Gayo, biasanya dicampur dengan kopi robusta.

Bila kopi untuk ekspor, petani menjual biji kopi (gabah) ke pengumpul yang berada di tiap desa. Lalu gabah tersebut dikeringkan kembali di bawah sinar matahari hingga kadar airnya 15-18%. Kopi berkadar air sebesar ini siap dijual ke pengumpul besar untuk dikeringkan hingga berkadar air kurang dari 13 persen. Lalu biji kopi di-huller, di-sortir dan dikemas untuk siap ekspor. Biji kopi inilah yang diolah lebih lanjut dan siap menyambut anda untuk minum di kafe-kafe besar. (Organis/ Agung P)

1 comment:

edratna said...

Wahh, jadi pengin ke Gayo...saya baru sampai di Banda Aceh. Menurut teman-teman, Takengon kota yang indah.

Kopi memang banyak manfaatnya, saya pernah membahas di http://edratna.wordpress.com/2006/12/10/
seputar-cerita-tentang-kopi/
Di satu sisi kopi juga penyumbang devisa bagi Indonesia.