Saturday, January 03, 2009

Di Tengah Krisis, Pasar Kopi Gayo Masih Cerah

BANDA ACEH, RABU — Pasaran kopi Arabika dari dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, dan Bener Meriah tahun depan masih cukup cerah karena harganya semakin membaik meski ekonomi dunia dilanda krisis global.

Ketua Forum Kopi Aceh (FKA) Mustafa Ali saat dihubungi di Takengon, Rabu (31/12), menyatakan, permintaan biji kopi sudah mulai membaik sehingga prospek pemasarannya pada tahun 2009 akan semakin bagus.

Ia menyatakan, harga kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah bergerak naik mendekati normal setelah sebelumnya sempat turun akibat berkurangnya permintaan luar negeri.

Harga biji kopi gabah (kualitas ekspor) di tingkat petani saat ini Rp 13.000 hingga Rp 14.000 per kg, sedangkan sebelumnya sempat turun Rp 9.000 per kg. "Naiknya harga kopi tersebut bersamaan dengan meningkatnya permintaan, termasuk dari luar negeri," katanya.

Mustafa menyatakan, kopi Arabika merupakan komoditi andalan masyarakat di daerah yang berhawa dingin itu karena, hampir sebagian besar, kopi Arabika dipasarkan ke luar negeri.

Kopi Arabika merupakan penyumbang terbesar ekspor non migas, khususnya komoditi perkebunan.

Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi NAD, realisasi nilai ekspor kopi Arabika hingga periode Januari-September 2008 mencapai 21,255 juta dollar Amerika Serikat (5,815 ribu ton) atau meningkat 17,66 persen dibandingkan tahun 2007 yang hanya 18,890 juta dollar AS (6,038 ribu ton).

Kasie Perdagangan Dalam dan Luar Negeri Disperindagkop dan UKM NAD Netty Muharni menyebutkan, pangsa pasar terbesar komoditi kopi Arabika adalah Amerika Serikat. "Oleh karenanya, pada saat krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat, para eksportir mulai lesu karena ekspor terhenti," katanya.

Amerika Serikat merupakan negara paling besar yang mengimpor kopi Aceh hingga September 2008, yakni mencapai 14,946 juta dollar AS (4,129 ribu ton) atau 70,30 persen dari total ekspor komoditi tersebut.

Kemudian, negara pengimpor lainnya Kanada dengan nilai 1,742 juta dollar (434,7 ton), Meksiko 1,164 juta dollar (288 ton), Australia 130,8 ribu dollar (37,2 ton), dan Selandia Baru senilai 126,171 ribu dollar (36 ton).

Selain itu, negera tujuan ekspor kopi Aceh juga ke Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), di antaranya Inggris, Belgia, Jerman, Norwegia, Swedia, dan Auburn. Negara pengimpor terbesar adaah Jerman dengan nilai 916.775 dollar (291,96 ton, disusul Auburn 694.449 dollar (180 ton), Swedia 430.021 dollar (108 ton), sedangkan negara lainnya di bawah 300.000 dollar.

Netty menyatakan, bila ditinjau dari pangsa pasar, seharusnya eksportir Aceh tidak hanya melihat Amerika Serikat, tetapi bagaimana pasar Eropa diperluas, baik negara tujuan maupun volume ekspornya.

"Dengan demikian, pangsa pasar kopi Aceh tidak hanya tergantung pada Amerika Serikat saja sehingga, apabila terjadi krisis ekonomi seperti sekarang ini, dampaknya tidak terlalu besar," katanya (ant/kompas/kopigayo)

2 comments:

Arabiyani said...

Nurul, bisa gak di buat tulisannya menjadi feature yg lbh dalam. TUlisannya sarat data.cuma harus di buat lebih ber-alur sepertinya :)

Noeroel : Uwein said...

Berijin atas sarannya...
bisa kak.. saya akan coba benahi semua postingan, agar mudah dibaca