Tuesday, August 16, 2011

Ayo Rebut Kopi Arabika Gayo dari Tangan Belanda

TAKENGON, KOMPAS.com - Merek dagang Kopi Arabika Gayo yang telah diklaim milik seorang pengusaha Belanda seusai didaftarkan ke WTO di Eropa tiga tahun lalu akan kembali ke daerah asalnya. Konflik perebutan hak merek kopi antara Pemerintah Belanda dan Indonesia belum tuntas, tetapi hak Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Gayo menjadi bukti kuat kepemilikan.

Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Aceh Tengah, Ir Sahrial yang didampingi Kabid Produksi dan Perlindungan Tanaman, Hermanto SP, akhir pekan lalu mengatakan, pasca-terbitnya IG Kopi Arabika Gayo, pengusaha Belanda itu tidak dapat lagi mengklaim merek Kopi Gayo miliknya karena harus dibubuhkan label IG pada setiap bungkusannya.

Namun, katanya, Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) harus melobi organisasi perdagangan Eropa guna mensosialisasikan IG Kopi Arabika Gayo. Kelompok masyarakat ini juga harus mampu meyakinkan mereka bahwa Kopi Arabika Gayo hanya dibudidayakan di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues.

Disebutkan, cita rasa Kopi Arabika Gayo mulai dikenal dan banyak ditemui di pusat-pusat (terminal) penjualan kopi terkenal seperti Starbuck dan lainnya. “Kita akan rebut kembali nama Kopi Arabika Gayo dan dikembalikan ke daerah ini,” tegas Hermanto SP. Secara geografis, IG Kopi Arabika Gayo milik petani pada tiga daerah yakni Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues,

“Budidaya kopi Arabika Gayo hanya ada pada tiga daerah tersebut dan tidak ada di Belanda dan daerah lainnya, sehingga orang luar tidak berhak mengklaim merek Kopi Arabika Gayo sebagi miliknya,” ujar Hermanto. Sedangkan harga biji kopi Arabika Gayo terus membaik. Pada 2010, biji hijau Rp 32.000/kg, kini Rp 55.000/kg dan biji kopi hijau siap ekspor Rp 60.000/kg,

Jumlah petani Kopi di Aceh Tengah 34.476 kepala keluarga (KK) dengan luas lahan 48.000 hektare dan tingkat produktivitas tahun 2010 sebesar 721 kilogram biji kopi hijau per hektare. Sedangkan luas areal kopi di Kabupaten Bener Meriah 40.000 hektare yang melibatkan 20.000 KK petani.

Sementara, dari 59 perusahaan pengekspor kopi via Pelabuhan Belawan Sumatera Utara, sekitar 40 ekspotir kopi berasal dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, dan terbesar adalah PT Sari Makmur Tunggal Mandiri, milik WNI keturunan asal Medan. Volume ekspor kopi via pelabuhan Belawan tahun 2008 tercatat 54.402 ton, lebih dari setengahnya berasal dari Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. (Jalimin/Serambi Indonesia)

1 comment:

Iwan Aramiko said...

Kopi Gayo memamng mantap...
www.bandatourism.blogspot.com