Tuesday, August 16, 2011

Indikasi Geografis Kopi Gayo

Oleh Marah Halim*


“What’s in a name” kata Shakespeare mutlak salah dalam bisnis dunia saat ini. Saat ini, nama adalah merek, merek adalah paten, paten adalah aset immateril, aset adalah uang….uang adalah pembangunan dan kesejahteraan. Kopi Gayo kini dipegang lisensinya oleh perusahaan Belanda. Bukan berarti penulis menyalahkan Shakespeare, tetapi kita memang telah salah. “Tingkis ulak ku bide sesat ulak ku dene”.

Untuk mendukung perubahan nama Bener Meriah dan Aceh Tengah sebagaimana yang penulis angkat dalam tulisan beberapa hari lalu, maka salah satu dasar pemikiran yang bisa dijadikan argumen yang kuat adalah bahwa secara hukum kopi Gayo telah mendapat hal paten, yaitu Indikasi Geografis, hak paten terhadap satu produk yang berasal dari wilayah tertentu. Kopi Gayo telah mendapatkan IG pada tahun 2010 yang lalu.

Seharusnya IG kopi Gayo sama dengan nama daerah yang menjadi asal-usulnya, sehingga semua orang langsung tau bahwa yang namanya kopi Gayo berasal dari dataran tinggi Gayo (Datinggo), dimana itu? Seharusnya jawabannya adalah “di Gayo Linge, Gayo Lut”, dan Gayo Lues”. Kalau sekarang terpaksa kita jawab di kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Jadi hanya Gayo Lues yang benar-benar merepresentasikan IG kopi Gayo, karena itulah satu-satunya kabupaten di Datinggo yang bernama Gayo, inilah kabupaten yang absolutely Gayo.

Sebagai perbandingan, dua varietas kopi yang Indikasi Geografis-nya sesuai dengan nama daerahnya adalah Kopi Kintamani di Bali dan Kopi Toraja di Tanah Toraja, itu nama daerahnya dan itu pula nama di IG-nya. Nah, kita “tampil beda”, nama daerahnya lain dan nama patennya lain, tidak konsisten.

Kopi bukan produk murahan, patokan harganya adalah Dollar Amerika, anehnya kita sudah merasa puas dengan harga kopi yang 30-40 ribu/bambu, sementara pemegang lisensinya menjual dengan harga selangit. Inilah yang namanya penjajahan ekonomi, siapa yang memegang nama dialah yang mengatur dari hulu sampai hilir. Jadi, masihkah sebuah nama belum berharga?

Bukan hanya kita yang resah dengan nama kopi Gayo yang tidak sesuai dengan nama daerahnya dan nama perusahaan yang memegang lisensi penjualan kopi Gayo secara internasional; teman-teman pesisir Aceh juga meresahkan ini, berikut penulis kutipkan salah satu tanggapan mereka atas status penulis di FB, nama FB beliau adalah Adie Black Eagle:

“Teringat cerita senior saya sehingga Saat saya datang langsung ke Gerai Kopi Starbuck…saya minta baca kemasan kopinya… Sehingga begitu bangganya saya menjadi orang Indonesia, dan orang Aceh saat membaca tulisan yg lebih kurang berbunyi ” Kopi dari dataran tinggi Gayo” namun sedikit miris ketika membaca tulisan kecilnya : Licenced by Holland Coffee…wuiiiih… Jadi sedih, tau-taunya kopi gayo belum “merdeka” seperti Republik ini. Tadinya saya pikir itu lisensinya oleh produsen kopi Indonesia atau Tanah Gayo sendiri… Bahkan kadang jadi teringat lawakan orang Medan… “Kopi Takengon, tapi Sidikalang punya nama…”.

”Sementara itu, Menyimak apa yang anda tulis Bang Halim, saya memahami kegelisahan anda sebagai putra tanah Gayo sebagaimana hal yg sama pada saya sebagai Putra Aceh, hanya saja mungkin ditemukan beberapa kendala bila merubah identitas nama Kota Takengon dan Bener Meriah, Nah, kenapa tidak dilakukan sosialiasi dan atau branding daerah seperti yg dilakukan oleh Starbuck dengan menambahkan kata2 disetiap promosi daerah, contoh misalnya : baleho ucapan selamat datang diperbatasan di tulis ” selamat datang di dataran tinggi Gayo- Takengon, Aceh Tengah” .

”Menurut hemat saya, penambahan kata “Dataran Tinggi Gayo” seperti terkemas di produk2 kopi international tersebut akan mewakili pencitraan daerah mulai bener Meriah, takengon, linge dll. Namun, bila tak sulit dirubah, ya dirubah saja seperti yg diinginkan putra-putri daerah sesuai saran para tetua…tentunya, apa saya sampaikan adalah sebuah ide dan saran yg mungkin baik bagi yg menilai baik dan menjadi buruk bila tak ada yg sependapat… Silahkan disikapinya dengan baik bang, seiring cinta saya sbg putra bangsa…:).

Begitulah keresahan orang tentang kita orang Gayo, kalau kemudian kita sendiri tidak resah tentu ada yang salah dengan pola pikir kita.

Ama/ine/sudere bewene, seorang thalib (pembelajar) hanya bisa melempar ide, karena itulah amal shalihnya. Untuk merubah nasib Gayo semuanya berangkat dari ide, ide wujudkan jadi tindakan nyata, tindakan nyata pertahankan jadi keberlanjutan (kebiasaan), sebuah keberlanjutan akan menjadi karakter, dan karakter yang jelaslah yang akan merubah nasib Gayo.

Semua ini adalah POLA PIKIR, pola pikir hanya ada dua, fixed mindset (pola pikir yang jumud) dan developed mindset (pola pikir berkembang). Kita orang Gayo pilih yang mana? Yang abadi di dunia ini hanya pilihan, persaingan, masalah. ”Ya yugayyiru ma bi qawmin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”.

*Pengamat Pemerintahan Gayo, tinggal di Banda Aceh

(sumber: lovegayo.com)

No comments: