Wednesday, November 14, 2007

Dataran Tinggi Gayo Merupakan Perkebunan Kopi Terluas di Indonesia

Takengon – Pakar Ekonomi yang juga mantan Gubernur Aceh, Prof. DR. H. Syamsudin Mahmud menyatakan kualitas kopi Gayo yang telah dikenal di manca negera itu harus dapat terus dipertahankan. Karena dari segi cita rasanya, kopi Gayo memiliki prospek pasar yang cukup cerah.

Syamsuddin Mahmud yang mengadakan pertemuan silaturahmi dengan Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM Kamis (25/10) malam di Pendopo Takengon menyebutkan, areal perkebunan kopi di daerah dataran tinggi Gayo, kata mantan Gubernur Aceh priode 1993 - 2000 merupakan perkebunan kopi terluas di Indonesia, setelah Timor –Timor. Namun kini perkebunan kopi di Timor-Timor yang hanya 7000 herktar itu sudah tidak ada lagi.

Menurut Syamsuddin mahmud yang dalam usianya 73 tahun itu, namun masih tetap energik, tanaman kopi jenis arabica telah mulai dikembangkan oleh Belanda di Aceh Tengah pada tahun 1926. Malah, sekitar tahun 1976 Belanda mengirim dua orang guru besar yang merupakan pakar tanaman kopi yakni, Prof. Menez dan Prof. Boss, dari Rotterdam, untuk meneliti lebih jauh tanaman kopi yang ada di daerah seribu gunung ini.

Waktu itu kata Syamsuddin, ia baru kembali dari Belgia untuk mendampingi kedua ahli kopi untuk melakukan penelitian di Aceh Tengah. Dari hasil penelitian tersebut, tambah Syamsuddin, sekitar tahun 1983 hasil kerja sama Pemerintah Belanda dengan Aceh membangun pabrik processing kopi dengan nama LTA 77 yang berlokasi di Kampung Pondok Gajah, Kecamatan Bandar.

Program Belanda sendiri waktu itu adalah melakukan pembangunan jalan-jalan desa yang diidentifikasi sebagai sentral kopi, membangun pabrik pengolahan kopi basah, serta pembinaan petani kopi. Produksi kopi milik petani yang ditampung oleh LTA 77 yang selanjutnya diproses menjadi kopi biji kering dengan label Gayo Mountain Coffee. Selain biji kopi kering, perusahaan itu juga memproduksi bubuk kopi dengan label yang sama. “Nah label inilah yang harus kita pertahankan”, pinta Syamsuddin Mahmud.

Karena sejak hadirnya pabrik pengolahan kopi basah, nama kopi Gayo dikenal oleh negara-negara konsumen kopi dunia. Salah satu negara pertama sasaran eksport kopi Gayo adalah Jepang. Pihak perusahaan melalui Mitsui Company mengeksport kopi ke negara Sakura tersebut. Di pasaran di negara itu masih kata Syamsuddin, produk Gayo Mountain Coffee menduduki urutan kedua setelah Blue Mountain Coffee dari Jamaika. “Sebenarnya dari segi cita rasa dan aroma, Gayo Mountain Coffee lah yang paling enak”, sebut Syamsuddin.

Syamsuddin mengakui, dia sudah hampir tujuh tahun tidak mengunjungi kota dataran tinggi Gayo itu. Makanya, bila ia merasa rindu dengan Aceh Tengah, ia akan tetap teringat dengan kopi Gayo. Untuk Syamsudin Mahmud yang kini menetap di Jakarta, sealalu memesan kopi Gayo. Karena jasa-jasanya dalam merintis berdirinya Perusahaan Daerah Gernap Mupakat (PDGM), pihak perusahaan tersebut mengirimkan bubuk kopi untuk Pak Syam panggilan akrab Syamsuddin Mahmud dengan jenis bubuk kopi jenis Moca. “Sampai sekarang kan masih ada kopi jenis moca itu dikembangkan di perkebunan milik perusahaan itu”, tanya Syamsuddin.

Untuk itu Syamsuddin berkali-kali berharap agar label Gayo Mountain Coffee yang telah berhasil merebut pasaran tersebut dapat terus dipertahankan. Pak Syam kembali menceritakan pengalamannya dalam lawatan ke negara Swiss. Di negara tersebut para ahli kopi melakukan penelitian terhadap kopi organik setiap tahunnya.

Sisi lain Syamsudin menyatakan kekaguman terhadap potensi besar yang dimiliki oleh Aceh Tengah. Daerah negeri Peteri Bensu itu, tidak hanya dikenal sebagai kawasan lumbung kopi terbesar di Indonesia. Lebih dari itu, Syamsudin menggambarkan, alam Aceh Tengah seperti alamnya Swiss. Lahan yang subur dan potensi yang cukup besar itu sangat menjanjikan untuk kesejahteraan masyarakat setempat.

Menjawab harapan Syamsuddin Mahmud terhadap label Gayo Mountain Coffee, Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM yang ditanyai terpisah menyatakan, Pemda terus melakukan berbagai upaya untuk tetap mempertahankan nama sekaligus kualitas kopi Gayo. Menurut Nasaruddin, masukan-masukan yang disampaikan Syamsudin Mahmud yang memiliki banyak pengalaman baik dalam bidang pemerintahan maupun berbagai bidang lainnya, merupakan masukan berharga untuk kemajuan daerah itu.

Karena kata Nasaruddin, sumbangsih mantan Gubernur Aceh terhadap Aceh Tengah, khususnya dengan berdirinya PDGM sangat besar. Untuk itu meski apapun hambatan yang ada di PDGM, Pemda akan terus berupaya mencari jalan keluarnya. “Apa yang telah dirintis oleh Pak Syam harus terus kita pertahankan”, ujar Nasaruddin.

2 comments:

edratna said...

Wahh saya nggak ingat, pas ke Banda Aceh, yang disuguhkan di hotel itu kopi Gayo bukan ya?

Akhir-akhir ini saya kurang tahan jika minum kopi, padahal dulunya pecandu kopi. Jadi baru minum kopi kalau udah makan, dan jangan sampai belum makan udah minum kopi....perut akan terasa perih (sakit maag)

Anonymous said...

Kopi Gayo..?? Baru dengar.. Saya tahu karena saya cari di Google utk perkebunan kopi, karena saya berencana untuk liburan di daerah perkebunan kopi. Saya adalah pecinta kopi (bukan pecandu). Saya ingin tahu, bisa diceritakan bagaimana aroma kopi ini? Saya sedang mencoba Toraja Coffee, harum dan rasa-nya enak. Apakah Kopi Gayo ini agak asam (dari jenis arabica kan?)

Terima kasih
Medy
medyphoto@gmail.com